Sang Peramu


Karya: Sayoga R. Prasetyo

"Baginda, hamba tidak pernah mencoba untuk meracuni tuan Tora. Mungkin itu hanya kesalah pahaman saja. “, ujar ahli peramu pada Sang Raja.

“ Kesalah pahaman bagaimana? Jelas – jelas Tora semakin terkulai lemah! “, teriak Raja Chang dengan cukup keras. Suaranya terdengar ke seantero Kuil Hong.

“ Waktu itu saya mendengar perintah untuk membuatkan obat gatal. Jadi ... “, belum selesai peramu menjelaskan ceritanya, Sang Raja sudah memotong pembicaraannya,

“ Obat gatal? Siapa yang memerintahkanmu untuk meracik obat gatal!? Tora itu keracunan jamur, mengapa kau memberikan obat gatal padanya dasar peramu bodoh! “, teriak Raja kembali. Sang peramu kemudian diam sejenak.

“ Mungkin utusan baginda lah yang salah memberikan informasi kepada hamba, hamba sudah melaksanakan apa yang diperintah “, ujar peramu dengan wajah murung dan tertunduk.

“ Usir dia! Cari lagi peramu yang bisa menyembuhkan Tora! “, ujar Raja Chang kepada 2 orang prajurit yang siap siaga di sampingnya.

“ Siap baginda “, ujar kedua prajurit tersebut dengan serempak. Lalu mereka berdua menyeret peramu keluar ruangan.

Pintu ruangan kembali ditutup. Suasana di Kuil Hong mendadak menjadi sangat sepi. Raja Chang melepas mahkotanya sembari menghembuskan nafas perlahan. Tangan kanannya mencoba memijat – mijat dahinya sendiri dengan harapan bisa menenangkan pikirannya. Tiba – tiba ada suara wanita yang mengejutkan Raja,

“ Butuh pijatan Tuan Raja? “, ujar wanita tersebut. Raja sempat terhentak karena kaget, lalu menoleh ke belakang. Oh ... ternyata Yin, adik kandung dari Raja Chang.

“Ah Yin ... kau datang tepat waktu. Aku membutuhkan sedikit relaksasi. Tolong berikan sedikit pijatan pada tubuhku ini “, ujar Raja sembari menyandarkan tubuhnya di kursi raja bak sofa empuk itu. Tangan Yin langsung memijat – mijat pundak Raja dengan perlahan,

“ Bagaimana? Apakah Tuan Raja sudah menemukan obat untuk Tora? “, tanya Yin. Mata Raja Chang begitu kosong. Pikirannya seolang melayang ke alam lain.

“ Entahlah Yin. Nampaknya memang tidak ada obat yang bisa menyembuhkan Tora. “, ujar Raja dengan nada pasrah.

“ Keadaan Tora semakin memburuk saja. Nampaknya semua obat yang telah peramu berikan tidak ada satupun yang manjur “, ujar Yin. Tangannya masih asyik memijat – mijat pundak Raja.

“ Ya, padahal aku sudah mengirimkan 3 orang peramu. Anehnya tak ada satupun yang berhasil menyembuhkan Tora “

******

Dalam waktu 4 hari saja berita tentang sakitnya Pangeran Tora sudah menyebar ke telinga rakyat. Raja memberikan pengumuman bagi siapa saja yang berhasil menyembuhkan Putra Raja Chang, Pangeran Tora, akan mendapatkan hadiah. Jika lelaki akan mendapatkan sekarung emas, jika wanita akan dijadikan istri. Dengan adanya pengumuman itu, Raja Chang semakin berharap ada seseorang yang datang ke kuilnya untuk mengobati Tora.

 “ Tuan Raja? “, suara Yin kembali menghapus lamunan Raja Chang. Raja Chang langsung menoleh cepat,

“ Tuan, ada orang yang ingin menjumpai Tuan Raja “, ujar Yin.

“ Izinkan dia masuk “, ujar Raja Chang dengan nada tegas.

“ Baik Tuan Raja “

Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki wanita. Raja menoleh, ternyata memang benar ia adalah seorang wanita yang membawa rantang kecil.

“ Baginda Raja, izinkan hamba untuk memberikan obat penetralisir racun jamur kepada Pangeran Tora “, ujar wanita itu dengan lembut.

“ Kau yakin obat yang kau bawa itu bisa mengobati Tora? “, tanya Raja Chang.

“ Hamba tidak begitu yakin obat ini akan menyembuhkan Pangeran Tora seratus persen, tetapi hamba yakin Dewa akan memberikan imbalan kepada orang yang mau berusaha “, ujar wanita itu. Raja Chang mengangguk perlahan tanda ia mengizinkan wanita itu untuk menemui putra angkatnya.

*****

“ Tuan Tora, ada orang yang ingin menemuimu “, ujar Yin sembari mengetuk – ngetuk pintu kamar Tora.

“ Ya! “, terdengar suara teriakan Tora dari dalam kamar. Wanita pembawa obat barusan langsung masuk dan pintu kamar Tora langsung tertutup. Wanita itu langsung menyapa Tora dengan sopan,

“ Pangeran Tora ... “

“ Sudah, tidak perlu bersusah payah. Aku tidak butuh obat. “, ujar Pangeran Tora memotong pembicaraan wanita itu. Wanita itu langsung menoleh ke arah Pangeran Tora.

“ Sudah 3 orang peramu yang membuang ramuannya di tempat sampah. Sekarang giliranmu nona. “, ujar Pangeran Tora dengan nada sinis. Wanita itu hanya terdiam.

“ Jadi ... Pangeran ... “

“ Iya! Aku tidak mau meminum obat apapun! Aku ingin mati! “, teriak Tora  pada wanita itu.

“ Apa Pangeran benar – benar sakit? Jika Pangeran benar – benar sakit, makanlah kayu ini. “, ujar wanita itu sembari menyodorkan sebatang kayu tipis berukuran sekitar 2 cm.

“ Anggap saja ini adalah sebuah permen. Sari – sarinya bisa menetralisir racun yang ada di dalam tubuh. “, ujar wanita itu. Tora tetap sinis,

“ Kau saja yang makan. Sudah kubilang aku tidak mau. “, ujar Tora.

“ Mengapa Pangeran? Pangeran adalah orang yang akan meneruskan tahta kerajaan ini. “, tanya wanita itu.

“ Aku tidak suka semua ini. Kau tahu, dulu aku hanyalah seorang patih. Ya, hanyalah seorang patih biasa. Namun karena kedekatanku dengan Raja, akupun diangkat menjadi anak angkatnya setelah putra tunggalnya tewas dalam peperangan tahun kemarin. Beliau tahu, dengan semua ketegasanku aku mampu memimpin kerajaan ini. Tapi aku merasa kesepian, aku merindukan masa – masa berkumpul dengan orang banyak, aku rindu hidup bebas, tidak seperti sekarang. Setelah aku menjadi seorang pangeran, aku merasa seperti dikurung, aku harus tampil elegan dan tidak boleh melakukan kesalahan sedikitpun. Ini membuatku tidak nyaman. Aku ingin ... ingin ... “, Tora memegangi dadanya. Ia terlihat seperti sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat.

Tak lama kemudian Tora terbaring di kasurnya, ia pingsan ...

*****

Kelopak mata Tora terbuka perlahan. Dilihatnya Raja Chang sedang duduk di samping kasurnya.

“ A ... ayah ... “, ucap Tora terbata – bata.

“ Ayah sudah tahu semuanya. Sekarang kau boleh ke luar istana dan boleh menjumpai siapa saja.“, ujar ayahnya. Tora heran dengan keputusan ayah tirinya itu.

“ Tunggu, jadi sebenarnya ... “, belum selesai Tora berkata, Raja Chang sudah memotong pembicaraannya,

“ Wanita itu sudah menceritakan semuanya, semua yang kau inginkan. Kau tahu, Dia adalah seorang pedagang jamur. Dia tahu jenis – jenis jamur dan pengobatannya jika terkena racun jamur. Ketika datang berita bahwa kau terkena racun jamur, dagangannya menjadi tidak laku. Maka dari itu ia datang kesini untuk menyembuhkanmu. “, ujar Raja Chang.

“Ketika kau pingsan, ia memasukkan sesuatu ke mulutmu. Ia sudah menjamin sekarang kau sehat. Anehnya, ketika aku hendak memberikan hadiah padanya, ia menolak. “, lanjut Raja Chang. Tora hanya terdiam. Merenungi wanita pedagang jamur hebat itu. Tiba – tiba Raja Chang melanjutkan pembicaraannya,

“ Sekarang aku sadar, orang kalangan bawah bukan untuk dihina. Toh, tanpa mereka tidak akan ada orang kalangan atas. “

Komentar

share!