Pilar-Pilar Jingga



Karya: Sayoga R. Prasetyo

Awan menghitam, orang – orang berjalan dengan sangat cepat. Arya hanya berdiam diri di bawah sebuah bangunan tua. Terpaksa sekarang dia harus berjualan perhiasan imitasi di bawah bangunan tua itu. Kalau ia berjualan di tempat seperti biasa, ia yakin ia dan barang dagangannya akan tersiram air hujan.

Orang – orang mulai merapat ke arah dagangan Arya. Tetapi bukan untuk membeli barang dagangannya Arya, melainkan untuk menghindar dari butir – butir air hujan yang mulai turun secara perlahan. Beberapa dari mereka berwajah pucat. Mungkin orang orang itu sedang terburu – buru dan tidak bisa diam diri lama – lama.

Seorang penjual jas hujan mulai memperdagangkan dagangannya,

“ Pak, bu . . . silahkan . . . jas hujan ini harganya 15 ribu rupiah “

Arya hanya bisa terdiam. Di situasi seperti ini, mana ada orang yang mau melirik dagangannya.

Kepalanya menoleh ke bawah. Sial, air sudah mulai mengalir tanda – tanda akan ada banjir datang. Tiba – tiba seseorang menepuk pundak Arya,

“ Hujannya cukup besar ya mas “, ujar orang itu dengan sangat ramah namun sedikit berteriak karena suara air hujan yang terlalu keras. Arya membalas senyuman manis bapak itu. Toh daripada diam saja menunggu air hujan yang tak bisa berhenti menetes, lebih baik berbicara dengan orang lain.

“ Iya pak. Akhir – akhir ini hujan jadi sering turun, padahal sebelumnya disini sedang menghadapi musim kemarau. Cuaca sedang tak menentu pak “, ujar Arya menjelaskan. Bapak itu nampaknya sangat asyik memperhatikan tetesan air hujan yang sangat deras itu.

“ Ummm . . . ini pasti hujan paling deras akhir – akhir ini ya? “, tanya bapak itu lagi.

“ Ya, begitulah pak. Kemarin – kemarin hujannya tidak sederas ini. “, ujar Arya. Bapak itu kemudian diam sejenak. Nampaknya pemandangan air hujan yang menetes itu sangat seru hingga membuatnya malas bicara.
Arya mencoba merapikan dagangannya saja. Di bawahnya sudah mulai menggenang air hujan. Nampaknya akan ada banjir.

Ternyata benar, air yang menggenang itu semakin tinggi saja. Bahkan sudah melebihi mata kaki.

“ Mas, celana saya sudah mulai basah terkena genangan air. Bagaimana kalau kita berteduh saja di masjid itu? “, tanya bapak itu. Tangannya menunjuk ke sebuah masjid di arah barat. Arya mengangguk.

“ Kang, saya boleh pinjam jas hujannya dua? “, tanya Arya pada tukan jas yang masih asyik menjual barang dagangannya.

“ Nanti kalau hujannya sudah mereda saya akan kembali lagi ke tempat ini dan mengembalikan jas hujannya Akang. Saya hanya ingin menyebrang sampai ke masjid itu “, lanjut Arya. Sang penjual jas hujan tersebut akhirnya mau meminjamkan dua buah jas hujannya. Arya menyodorkan salah satu jas tersebut kepada bapak yang barusan mengajaknya bicara.

“ Pakai saja pak. Rasanya tidak mungkin kalau kita harus berjalan ke masjid itu sembari menantang hujan sederas ini. “, ujar Arya. Bapak itu mengangguk lalu menerima jas hujan yang dipegang Arya.

Petir semakin menggelegar, angin semakin kencang, pepohonan terombang – ambing kesana kemari. Beberapa papan di jalan roboh tak kuasa menahan kuatnya angin yang menerpa kota Bandung saat itu. Arya dan bapak itu berjalan agak cepat melewati derasnya air hujan. Belum lagi angin yang kuat itu membuat mereka semakin kedinginan saja.

Mereka berdua akhirnya sampai di masjid yang lumayan megah itu. Mereka langsung masuk ke tempat wudhu lalu membersihkan kaki mereka. Sesaat kemudian mereka selesai dan kembali ke teras masjid untuk menunggu hujan reda.

Kini mereka berdua hanya terdiam. Arya hanya bisa bolak – balik mengawasi barang dagangannya jangan sampai hilang. Sedangkan bapak itu masih saja terdiam memperhatikan derasnya air hujan.

“ Seharusnya hujan besar seperti ini berlangsung cepat. Tapi ini kok lama sekali ya? “, keluh bapak itu. Matanya masih tertuju pada derasnya air hujan.

“ Ya, seperti saya ucapkan barusan. Keadaan cuaca di daerah sini akhir – akhir ini jadi tidak menentu pak. Bapak sepertinya sedang terburu – buru ya pak? Apa bapak hendak mendatangi suatu acara? “, tanya Arya. Bapak itu malah tertawa kecil.

“ Tidak lah mas. Mas kan bisa lihat sendiri wajah saya sudah keriput begini. Saya sudah pensiun mas. Saya sedang asyik jalan – jalan. “, ujar bapak itu menjelaskan. Arya sedikit menganga. Kalau dilihat dari wajahnya, bapak ini sepertinya masih berumur 50 – an. Lantas mengapa ia sudah pensiun? Berarti umurnya sudah lebih dari 60 tahun . . .

“ Jualan tokh mas? “, tanya bapak itu pada Arya. Arya menatap bapak itu sejenak, lalu memperhatikan barang dagangannya yang sudah dirapikan dan dimasukkan ke dalam karung itu.

“ Eh, iya pak. Saya berjualan gelang, kalung, dan yang lainnya. “, ujar Arya sambil tersenyum.

“ Harganya berapa? “, tanya bapak itu lagi.

“ Mulai dari tiga ribu rupiah sampai lima belas ribu rupiah pak. “, ujar Arya.

“ Bapak mau beli? “, tanya Arya lagi. Tangannya mulai merogoh karung yang berisi barang dagangannya itu.

“ Boleh saya lihat - lihat dulu? “, tanya bapak itu. Arya mengangguk.

“ Tentu pak. “, ujar Arya sambil mengeluarkan beberapa gelang – gelang yang bagus. Dengan cepat bapak itu langsung melirik gelang berwarna ungu.

“ Saya pilih yang ini saja. “, ujar bapak itu sambil mengeluarkan dompet dari saku belakangnya.

“ Itu lima ribu rupiah pak. “, ujar Arya. Bapak itu langsung menyodorkan uang lima ribu rupiah dan memberikannya pada Arya.

“ Terimakasih banyak pak. “, ujar Arya sambil tersenyum.

“ Ngomong – ngomong, gelang itu untuk siapa pak? “, tanya Arya pada bapak itu. Yah . . . sedikit basa – basi daripada diam memperhatikan derasnya hujan.

“ Itu . . . untuk anak saya. Kelak kalau saya kembali ke Jawa pasti akan saya berikan kepada anak saya tercinta. Entah sampai sekarang saya belum tahu sebesar apa tubuh anak saya sekarang, sudah 3 tahun kami tidak bertemu. Ya . . . karena keterbatasan ekonomi. “, ujar bapak itu menjelaskan.

“ Bapak bukan orang sini? Wah . . . pantas saja bahasa dan logatnya agak – agak aneh “, ujar Arya. Bapak itu tersenyum.

“ Saya asli orang Kebumen mas. Mas pasti tahu kan Kebumen? “, tanya bapak itu.

“ Ya . . . saya pernah mendengar, tapi belum pernah kesana “, ujar Arya sambil tersenyum.

Hujan perlahan – lahan akhirnya reda juga. Kini hujan deras itu sudah berubah menjadi gerimis kecil. Orang – orang sudah mulai memberanikan diri beraktivitas seperti biasanya. Beberapa petugas masih sibuk memperbaiki beberapa papan – papan yang roboh dan menghalangi jalan raya. Bahkan beberapa pohon menjadi sedikit miring setelah terjadinya hujan tersebut.

Bapak itu langsung berjalan pergi meninggalkan Arya tanpa pamit atau salam sedikit pun. Bahkan tersenyum pun tidak. Arya hanya bisa memperhatikan dua buah jas hujan yang harus ia kembalikan kepada penjualnya.
Arya berjalan perlahan menuju bangunan tua tadi. Jalanan sedikit banjir. Ada aliran air yang cukup deras yang membuat Arya kesulitan berjalan. Setelah sampai di gedung tua itu Arya langsung mengembalikan dua buah jas hujan barusan kepada penjualnya. Tetapi sesaat kemudian,

GUBRAAKK!!!

Arya ditabrak seseorang. Karungnya terjatuh. Sialnya, seusai melayani bapak yang barusan Arya lupa mengikat bagian atas karung tersebut. Jadi barang dagangannya tumpah dan terbawa arus air.

Arya yang masih menahan sakit itu mencoba membuka matanya. Ternyata yang menabraknya adalah seorang wanita.

“ Aduh . . . maaf . . . aduh . . . bagaimana ini . . . “, ujar wanita itu agak panik. Arya masih saja terbaring sembari memegangi kepalanya yang barusan terbentur trotoar saat jatuh. Pakaiannya semuanya kotor, dagangannya ludes terbawa arus air dan masuk ke parit – parit pinggir jalan.

Arya akhirnya memaksakan diri untuk bangkit meski tangan kanannya tak bisa lepas memegangi kepalanya. Ia melihat seluruh dagangannya terbawa arus air dan orang – orang di sekitarnya memperhatikannya. Kepalanya sungguh sakit. Namun ia mencoba menahan semua rasa sakit itu.

Wanita di hadapannya terlihat sangat panik dan kebingungan. Arya malah berjalan ke pinggir lalu duduk bersandar di tembok gedung. Tak peduli barang dagangannya hilang ataupun hanyut, yang sekarang ia pikirkan hanyalah rasa sakit di kepalanya yang luar biasa. Ya, trotoar bukanlah benda yang lunak.

Wanita itu mendekati Arya,

“ Tidak apa – apa kan? “, tanya wanita itu. Arya masih saja memegangi kepalanya sembari menahan sakit. Matanya melirik – lirik keadaan di sekitarnya, orang – orang memperhatikannya namun anehnya tak ada yang mau menolongnya.

Nafas Arya mulai terengah – engah dan tidak teratur, matanya meredup, lingkungan di sekitarnya jadi serasa sunyi . . . dan sesaat kemudian ia merasakan dunia yang gelap gulita . . .

*****

Arya terbangun. Ia seperti terbangun dari mimpi buruk. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Nafasnya masih sedikit terengah dan tidak bisa teratur. Sesaat setelah melirik – lirik lingkungan di sekitarnya, akhirnya ia tahu, ini adalah kamarnya.

Tiba – tiba pintu terbuka. Ayahnya membawakan secangkir teh hangat untuknya.

“ Ayah, ada apa denganku? “, tanya Arya pada ayahnya. Ayahnya menyodorkan segelas teh hangat itu pada Arya. Arya menerimanya.

“ Sudah minum saja dulu. Ayah juga tidak tahu kejadiannya seperti apa. Ayah barusan sedang asyik menonton TV tiba – tiba beberapa orang datang mengetuk pintu. Saat ayah buka ternyata kamu ditemukan pingsan. Katanya sih kamu pingsan di pinggir jalan. Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa kamu bisa pingsan di pinggir jalan seperti itu? “, tanya Ayah Arya. Arya mencoba meneguk teh hangat tersebut.

“ Entahlah yah . . . aku tak ingat apa yang terjadi waktu itu. Memangnya kapan aku dibawa kesini? “, tanya Arya balik.

“ Sekitar 2 jam yang lalu. Dan ternyata kamu baru siuman sekarang. “, ujar Ayah Arya. Arya mencoba mengingat – ngingat apa yang terjadi sebelum ia pingsan, namun ia tak ingat apapun. Nyaris tak ingat apapun.

“ Tidur lagi sana. Siapa tahu nanti saat kau bangun kau akan ingat sesuatu. “, ujar ayah Arya sembari meninggalkan ruangan.

Arya sedikit termenung. Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa ia bisa pingsan? Tangannya langsung menaruh teh hangat itu di meja kecil disamping kasurnya. Tatapannya masih kosong. Ia mencoba mengingat sedikit tentang kejadian sepanjang hari ini. Namun ia tidak ingat, bahkan ia tak ingat apa yang ia lakukan pagi ini setelah bangun tidur.

“ Ya, bangun. Ada seseorang di ruang tamu. Katanya sih ingin menemuimu dan meminta maaf soal kejadian tadi siang. “, ujar Ayah Arya. Mata arya padahal masih remang – remang. Tetapi ia mencoba untuk bangun dan beranjak ke ruang tamu.

“ Cuci muka dan ganti bajumu dulu. Penampilanmu hancur sekali. “, ujar Ayah Arya. Arya mengangguk lalu berjalan perlahan ke arah kamarnya lagi untuk merapikan penampilannya.

Tak lama akhirnya ia keluar dengan penampilan yang sudah lebih baik. Ia lantas keluar menuju ruang tamu. Ia ingin tahu sebenarnya siapakah orang yang ingin menemuinya.

Seorang wanita duduk dengan santainya. Ruang tamu di rumahnya Arya memang tidak terlalu nyaman namun wanita itu tampak menikmatinya.

“ Eh, kok tidak terlihat kesakitan lagi sih? “, tanya wanita itu tiba – tiba. Arya yang tidak mengerti itu hanya bisa terdiam menatapi wajah wanita itu. Suasana mendadak hening. Wanita itu maupun Arya saling diam. Ayah Arya menepuk pundak Arya,

“ Kamu tak bisa mengingat apapun? “, tanya Ayah Arya. Arya hanya termenung, kepalanya mencoba berpikir keras apa yang baru saja terjadi. Suasana hatinya mendadak menjadi tidak enak sekali.

“ Arya? Kenapa kamu? “, tanya ayahnya lagi. Arya masih saja terdiam.

“ Kamu tidak bisa mengingat apapun? “, tanya ayahnya.

“ Tentu saja aku masih ingat hampir semuanya Yah . . . tetapi aku tak bisa mengingat apa yang terjadi hari ini. “, ujar Arya. Ia mencoba memanggil ingatannya namun tetap saja . . . ia tak mengingat apapun.

“ Nampaknya kita harus membawanya ke rumah sakit terdekat. Saya takut ada cedera di otaknya karena barusan ia terbentur trotoar begitu kerasnya. “, ujar wanita itu.

“ Apa!? Terbentur trotoar!? “, Arya sedikit tidak percaya atas apa yang baru saja dikatakan wanita itu pada ayahnya.

“ Lantas siapa kau!? Apa yang kau lakukan padaku siang tadi!? Apa yang aku lakukan seharian ini!? “, wajah Arya terlihat sedikit emosi karena ia tak bisa mengingat apapun.

“ Ah, sudahlah. Nanti akan saya ceritakan semuanya di rumah sakit. Sekarang ayo kita ke rumah sakit dulu. “, ajak wanita itu. Ayah Arya mengangguk.

“ Ayo, kita ke rumah sakit. Kita periksakan kepalamu yang barusan terbentur itu. “, ajak ayahnya. Arya sepertinya menolak,

“ Memangnya ada apa dengan kepalaku, Yah? Seingatku kepalaku tidak pernah membentur apapun. “, ujar Arya mengelak.

“ Pokoknya kamu harus dibawa ke dokter untuk diperiksa. “, ujar Ayah Arya dengan agak keras. Arya akhirnya menurut apa kata – kata Ayahnya dan langsung bergegas mengikuti ajakan ayahnya pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya.

******

“ Tidak ada syaraf yang putus. Hanya saja mungkin ingatannya di beberapa jam yang lalu akan ia lupakan. Dan yah . . . mungkin saja beberapa kejadian di masa lalu ia tak ingat. “, ujar dokter menjelaskan dengan wajah cukup cemas.

“ Jadi . . . anak saya hilang ingatan dok? “, tanya Ayah Arya dengan wajah sedih sekali.

“ Ya, bisa dibilang begitu. Namun ini tidak terlalu parah. Banyak juga yang ia ingat. Dan saya berani menjamin dalam waktu tiga hari ingatannya akan segera pulih kembali. Tenang saja. “, ujar dokter itu dengan sedikit senyuman. Mungkin maksudnya ingin menghibur Ayahnya Arya. Tetapi itu tidak berhasil. Wajahnya tetap saja memucat.

“ Tidak usah bingung pak, biaya semuanya akan saya tanggung pak. Ini kan kesalahan saya juga karena sudah menabrak Arya. “, ujar wanita itu dengan sangat ramah. Ayah Arya mengangguk perlahan. Wajahnya masih saja memucat.

Arya akhirnya kembali berbaring di kamarnya dengan beberapa obat yang harus ia minum setiap malamnya.

“ Dari pagi hari sampai sore hari ayah akan menemanimu dan membantumu mengingat –ngingat kejadian yang pernah kamu lalui di masa lalu. “, ujar Ayahnya. Arya hanya terdiam. Ia terus mencoba mencari tahu sebenarnya apa yang terjadi padanya saat ini . . . mengapa ia tak bisa mengingat – ngingat masa lalunya sendiri . . .

“ Ayah, memang masa laluku serumit apa? “, tanya Arya. Ayahnya awalnya hanya terdiam. Sepertinya ia malas menjawab pertanyaan anaknya itu. Namun akhirnya ia menarik nafas dalam – dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan,

“ Masa lalumu sangatlah rumit. Dulu ibumu hamil di luar nikah. Hubungan antara ayah dan ibumu ini tidak disetujui nenek dan kakekmu. Sehingga kami berdua menikah hanya untuk 5 tahun. Setelah itu kami bercerai dan kamu memilih untuk ikut ayah saja. Sekarang . . . yah . . . terakhir kali ayah dengar sih ibumu itu sudah menikah lagi dengan seorang duda yang kaya raya dan sudah dikaruniai anak lagi. Sedangkan kehidupan kita berdua malah semakin memburuk. Setelah itu kamu memilih untuk berdagang saja untuk membatu ekonomi kita daripada melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. “, Ayahnya bercerita sangat panjang. Dan saat Ayah Arya menoleh, ternyata Arya sudah terlelap. Yah, mungkin Arya butuh sedikit istirahat agar otaknya bisa mengingat kejadian – kejadian di masa lalu dan kembali berfungsi dengan normal seperti biasanya.

Keesokan harinya . . .

Seseorang mengetuk pintu. Arya yang baru saja hendak mengambil makanan di meja makan itu langsung bergegas ke arah pintu dan membukakan pintu itu. Ternyata wanita yang kemarin datang untuk menjenguknya.

“ Boleh saya masuk? “, tanya wanita itu tiba – tiba. Arya langsung mempersilahkan wanita itu untuk duduk di ruang tamunya yang sederhana sekali.

“ Silahkan. “, ujar Arya sambil tersenyum.

“ Lapar kan? “, tanya wanita itu tiba – tiba. Arya mengangguk sambil tersenyum kecil.

“ Ya, saya baru saja hendak makan.. “, ujar Arya dengan wajah polos. Wanita itu lantas tersenyum lalu mengeluarkan sesuatu dari kantung yang ia bawa. Ternyata itu adalah sebuah rantang.

“ Ini, saya bawakan ayam goreng. “, ujar wanita itu sambil tersenyum pada Arya. Arya membalas senyuman wanita itu.

“ Wah, terimakasih banyak “, ujar Arya.

Arya dengan cepat langsung melahap makanan itu. Ya, di keluarga yang sederhana seperti keluarga Arya ini sangatlah sulit untuk bisa menikmati ayam goreng.

“ Ehm . . . saya kira – kira bisa panggil . . . “, belum selesai wanita itu berbicara, Arya langsung memotong,

“ Panggil saja saya Arya. “, ujar Arya. Sesaat kemudian Arya kembali sibuk melahap ayam goreng.

 “ Nama saya Gadis. “, ujar wanita itu. Arya tiba – tiba berhenti mengunyah. Mungkin nama wanita itu cukup unik di telinganya.

“ Gadis? “, tanya Arya agak kebingungan. Wanita itu mengangguk mencoba meyakinkan Arya.

“ Ya, nama saya gadis. “, ujar wanita itu.

“ Wah, kalau di kampung sangat jarang ada nama seperti itu. Pasti bukan orang kampung ya? Pasti orang kaya ya? “, tanya Arya.

“ Tidak juga. Saya tidak tinggal disini. Saya asli orang Jawa. Saya kesini karena saya sebenarnya sedang mencari Ayah saya. Sebulan yang lalu Ibu saya baru mengaku bahwa ibu saya dulu sempat menikah dan memiliki anak. Dan sampai sekarang saya belum pernah bisa melihat ‘ ayah ‘ dan ‘ kakak ‘ saya itu. “, ujar Gadis.

“ Waw . . . hebat. Perempuan yang berani berpetualang. Umurnya berapa? “, tanya Arya.

“ 20 “, ujar wanita itu dengan polos.

“ Wah, beda 6 tahun dengan saya. Saya sudah 26. “, ujar Arya. Kini wanita itu yang menganga,

“ 26? Masih hidup menyendiri? “, tanya wanita itu sedikit tidak percaya.

“ Ya begitulah. Saya lupa kenapa saya sampai sekarang belum memiliki istri. “, ujar Arya sambil tertawa. Wanita itu langsung ikut tertawa kecil.

“ Sudahlah. Ingatanmu itu belum terlalu pulih. Nanti juga pasti ingat lagi. “, ujar wanita itu sambil tertawa kecil. Arya langsung kembali sibuk melahap ayam goreng.

Baru saja beberapa menit, Arya sudah menghabiskan sepiring nasi.

“ Dis, memangnya apa yang terjadi padaku kemarin? “, tanya Arya. Gadis menarik nafas dalam – dalam lalu menghembuskannya secara perlahan.

“ Kemarin itu aku menabrakmu. Lalu kau terjatuh dan kepalamu membentur trotoar dengan sangat keras sekali. Maaf ya . . . “, ucap Gadis. Arya hanya terdiam. Ia bingung mengapa memori itu tidak bisa ia panggil dari ingatannya.

“ Sedang apa aku waktu itu? Mengapa aku ada di trotoar? Apa yang aku lakukan waktu itu? “, tanya Arya. Gadis masih berwajah pucat. Ia takut Arya akan marah pada dirinya karena dialah yang membuat ingatan Arya menjadi buram.

“ Kau sedang berdagang.”, ujar Gadis. Kening Arya semakin mengkerut.

“ Berdagang? Apa aku seorang pedagang? “, tanya Arya lagi. Gadis mengangguk,

“ Ya . . . menurutku begitu. “, ujar Gadis.

“ Lantas mana barang daganganku? “, tanya Arya.

“ Saat kau terjatuh, barang daganganmu hanyut terbawa arus air. Waktu itu sedang banjir. “, ujar Gadis menjelaskan. Kening Arya masih saja mengkerut. Ia mencoba berpikir keras tentang kejadian saat itu.

“ Bisakah kau ajak aku ke tempat itu? Siapa tahu aku akan ingat sedikit. “, tukas Arya.

“ Tentu. Tapi tidak hari ini. Emm . . . mungkin esok hari saja. Hari ini sedang ada pembersihan jalan bekas banjir kemarin disana. Lagipula dokter bilang sepanjang hari ini yang boleh kau lakukan hanyalah makan, nonton TV, duduk, dan berbagai pekerjaan santai lainnya. Waktu yang tersisa harus kau gunakan untuk tidur dan beristirahat total. Tenang saja aku akan menjagamu selama 3 hari kedepan. Aku harus bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan. “, tukas Gadis.

“ Nah, sekarang waktunya tidur. Ayo. “, lanjut Gadis sambil berdiri dari duduknya. Arya ikut berdiri lalu berjalan menuju kamar tidurnya.

Keesokan harinya, Arya sudah standby di ruang tamu sejak ia bangun tidur jam 8 tadi. Ia berharap Gadis akan datang lagi ke rumahnya untuk mengajaknya ke luar rumah

Terdengar suara seseorang mengetuk pintu. Arya langsung membukakan pintu dengan cekatan. Ternyata memang Gadis.

 “ Ayo. “, ajak Arya dengan semangat. Gadis tertawa,

“ Ya ampun . . . semangat sekali . . . sudah makan belum? “, tanya Gadis diselingi tawa kecil.

“ Sudah kok “, ujar Arya sambil tersenyum.

“ Bohong “, ujar Gadis sembari menebar senyum.

“ Sudah “, tukas Arya lagi meyakinkan.

“ Bohong ah “, ujar Gadis lagi. Arya terpojok,

“ Ok, aku memang belum sarapan. Nanti saja makannya sepulang dari . . . “, belum selesai Arya bicara, Gadis sudah memotong,

“ Ya ampun . . . kalau nanti ada apa – apa bagaimana? “, tanya Gadis. Ia masih saja tertawa kecil,

“ Ah, sudahlah. Ayo kita berangkat. “, ajak Arya sembari menarik tangan Gadis.

Mereka berdua berjalan menyusuri jalan raya kota Bandung yang ramai. Suasana sangat indah ditemani mentari pagi yang begitu cerah. Belum lagi udara yang sejuk menambah keindahan suasana di pagi hari ini.

“ Nah, ini dia lokasinya. “, ujar Gadis. Arya langsung berhenti melangkah. Lalu memperhatikan keadaan sekitar.

“ Ini? Di depan gedung tua raksasa ini? “, tanya Arya tak percaya. Gadis mengangguk,

“ Mana? Tidak ada bekas darah. “, tukas Arya. Gadis tertawa,

“ Kau ini tidak terluka sama sekali. Hanya saja kepalamu terbentur trotoar dengan sangat keras. “, ujar Gadis menjelaskan.

“ Sungguh, aku tak bisa mengingat apapun dari tempat ini. Ini tempat yang asing untukku. “, ujar Arya. Keningnya kembali mengkerut seperti kemarin.

“ Benarkah? Setiap hari kau menggelar tikar di sebelah pilar ini. Kau berjualan perhiasan imitasi. “, ujar Gadis. Arya tak percaya. Keningnya semakin mengkerut saat mendengar penjelasan Gadis barusan.

Arya tak mau bicara sepatah kata pun. Otaknya sibuk mengingat – ingat masa lalunya. Dilihatnya beberapa pilar besar menjulang. Bagaimana bisa tempat ini menjadi tempat kesehariannya? Ia sungguh merasa asing . . .

“ Arya, kau sudah siuman? “

Arya mencium bau wewangian yang tak enak. Matanya langsung terbuka.

“ Ah, dia sudah siuman. Tolong buatkan teh hangat untuknya. “, perintah Ayah Arya pada Gadis. Gadis mengangguk cepat dan langsung keluar dari kamarnya Arya untuk membuat secangkir teh hangat.

“ Ayah, ada apa lagi denganku? “, tanya Arya pada Ayahnya. Tubuhnya masih sangat lemas.

“ Kau pingsan gara – gara belum sarapan. “, ujar Ayahnya sedikit geram. Arya merenung sejenak. Tiba – tiba pintu kamar Arya terbuka,

“ Ini “, ujar Gadis sambil memberikan secangkir teh hangat untuk Arya.

“ Minumlah. Setelah itu langsung makan ya “, tukas Ayah Arya. Arya mengangguk. Saat itu juga Ayah Arya langsung keluar dari kamar Arya.

“ Huh . . . ya ampun . . . aku barusan panik setengah mati saat kau terjatuh tiba – tiba di gedung itu. Untung saja disana ramai dan banyak orang – orang yang mau menolong, aku jadi tidak terlalu kerepotan. “, ujar Gadis. Arya sepertinya tidak merespon sama sekali.

“ Aku kini ingat semuanya Dis. “, ujar Arya sambil tersenyum. Kening Gadis mengkerut,

“ Kau sudah ingat? Serius? Bukankah ini baru hari kedua ya? Dokter bilang kau akan sembuh di hari keempat. “, ujar Gadis tak percaya.

“ Aku ingat semuanya. Kisah hidupku dari kecil hingga jadi penjual perhiasan imitasi . . . aku ingat semuanya! “, ujar Arya bahagia. Gadis ikut bahagia.

“ Ayahmu harus mengetahui hal ini “, ujar Gadis. Namun belum sempat Gadis beranjak, tangannya sudah tersentuh tangan Arya.

“ Kumohon . . . rahasiakan ini dulu . . . biarkan ayah tidak tahu hal ini untuk sementara waktu. Nanti pada hari keempat, baru beri tahu dia kalau ingatanku sudah kembali seperti semula. “, ujar Arya. Gadis mengerti.

“ Baiklah. Namun sekarang kau harus makan dulu ya. Dan setelah itu kau harus kembali tertidur. Bagaimanapun juga kau barusan pingsan jadi au butuh istirahat total. “, ujar Gadis. Arya mengangguk.

Keesokan harinya . . .

 Arya terbangun. Rumahnya sepi sekali. Ia berjalan menuju meja makan. Untungnya ada makanan yang bisa ia makan. Ia menunggu suara ketukan pintu seperti biasa. Dan ia akan menyambut Gadis dengan wajah ceria.

Baru tiga hari ia bersama Gadis. Tetapi ia merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia yakin, wanita yang dikirimkan Tuhan kali ini adalah jodohnya. Jodoh yang akan mengakhiri kesendiriannya selama ini. Ia yakin . . . sangat yakin . . .

Seusai makan Arya langsung melangkah ke arah pintu ruang tamu lalu membukanya. Ia melirik – lirik keluar. Entah kemana Gadis hari ini. Ia memalingkan wajahnya ke arah jam dinding, sudah pukul 10 pagi.

Arya kembali menutup pintu. Wajahnya agak pucat tetapi ia optimis hari ini Gadis akan datang. Ia berjalan menuju lemarinya, membuka laci, lalu mengambil sebuah kotak kecil berwarna merah. Dalamnya adalah cincin emas.

Cincin itu dulu hendak ia berikan kepada wanita yang ia sukai. Tepatnya dua tahun yang lalu. Namun naas, wanita itu tewas tertabrak truk satu hari sebelum Arya akan mengungkapkan perasaannya. Pada saat itu Arya begitu terpukul.

Dan untuk kali ini ia tak mau kejadian itu terulang lagi. Ia akan mengungkapkan perasaannya kepada Gadis sesegera mungkin. Ia tak mau semua itu terlambat.

Terdengar suara pintu terketuk. Arya kaget. Dengan cepat ia masukkan kotak merah kecil itu ke sakunya, lalu bergegas berjalan ke arah pintu.

Arya membukakan pintu. Terlihat jelas wajah Gadis yang pucat.

“ Dis, ada apa? “, tanya Arya. Gadis terdiam.

“ Dis? “

“ Sepertinya aku kurang tidur, ku mohon untuk kali ini saja kau yang jaga dan aku yang istirahat ya “, ujar Gadis memohon. Arya mengangguk,

“ Siap. Memangnya semalam kau tidak tidur? Kenapa? Ada apa tadi malam? “, tanya Arya. Gadi terdiam sejenak. Ia mencoba membuat tubuhnya sedikit rileks agar bisa beristirahat.

“ Aku ingin istirahat. Nanti saat aku terbangun pasti akan aku ceritakan. “, ujar Gadis. Matanya sudah terlihat setengah tertutup.

*****

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 4 sore. Gadis baru saja terbangun. Arya yang sedang menoton TV itu langsung menoleh.

“ Sudah bangun? Tidurmu sepertinya nyenyak sekali. “, ujar Arya diselingi tawaan kecil. Gadis hanya diam saja. Wajah pucatnya masih belum hilang.

“ Wah wah, wajahmu pucat sekali. Mau ku ajak jalan – jalan? “, tanya Arya. Gadis hanya mengangguk.

“ Oke, tunggu sebentar. Aku akan mencuci mukaku dulu. Sekalian nanti di jalan akan aku ceritakan apa yang membuatku galau saat ini. “, ujar Gadis.

Arya dan Gadis berjalan berduaan menyusuri jalan raya kota Bandung sembari menikmati pemandangan kota Bandung di sore hari. Sungguh indah.

“ Tadi malam aku sudah berhasil menemukan ayahku yang kucari selama ini. “, ujar Gadis. Arya menoleh,

“ Oh ya? Bagaimana keadaan ayahmu saat ini? “, tanya Arya.

“ Ya, dia kini hidup dengan ekonomi yang lebih buruk dengan ekonomi di keluargaku. Aku sangat sedih melihatnya. Dan sekarang aku sedang galau memikirkan bagaimana caranya membantu kehidupannya. “, ujar Gadis menjelaskan.

“ Tenanglah. Aku akan membantumu. “, ujar Arya.

“ Tidak. Kau tidak bisa membantuku. “, ujar Gadis.

“ Tentu saja bisa. Mengapa tidak bisa? “, tanya Arya kebingungan. Gadis hanya diam tak mau menjawab.

Mereka berdua akhirnya saling diam hingga mereka berdua sampai ke gedung tua tempat pertama kali mereka bertemu. Ya, tempat dimana mereka bertabrakan. Mereka berjalan ke arah gedung tua itu untuk berlindung dari sengatan matahari sore.

“ Hey, apa itu pelangi? “, tanya Arya. Tangan kanannya menunjuk ke arah langit. Gadis mendongak sedikit karena penasaran.

“ Oh iya, itu pelangi! Eh, mengapa ada pelangi ya? Padahal seharian ini tidak ada hujan . . . “, tanya Gadis kebingungan.

“ Entahlah. Ini hanyalah rahasia Tuhan. “, ujar Arya sambil tersenyum. Suasana semakin hangat.

“ Kau sudah tidak murung lagi kan? “, tanya Arya. Gadis tersenyum kecil.

“ Suasana kota Bandung memang berbeda dengan di daerah Jawa tengah. Disini suasananya bisa mengembalikan suasana hatiku. “, ujar Gadis.

Arya menarik nafas panjang, jantungnya berdetak sangat cepat. Ia ingin mengungkapkan perasaannya saat ini . . .

“ Dis, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu. “, ujar Arya. Gadis terlihat masih asyik memperhatikan pelangi di langit sana.

“ Apa? Katakan saja . . . “, ujar Gadis.

“ Tatap aku dulu. “, ujar Arya. Gadis langsung menghadap ke arah Arya. Suasana mendadak jadi serius.

Arya langsung mengeluarkan kotak kecil merah yang sudah ia siapkan di sakunya. Lalu ia membuka kotak merah itu. Cincin emas langsung terpampang jelas di depan mata Gadis.

“ Sudah sekian lama aku menyendiri. Dan kini, pilar – pilar ini akan menjadi saksi akhir dari kesendirianku. Suatu saat pilar – pilar ini akan menjingga dan berubah menjadi sejarah dalam kisah cinta kita. Dis, maukah kau menjadi pendamping hidupku? “, tanya Arya. Gadis terdiam. Ia terdiam cukup lama.

“ Dis? Aku butuh jawabannya sekarang. “, ujar Arya. Tiba – tiba Gadis meneteskan air mata.

“ Dis? Ini cincin asli, bukan imitasi. Aku benar – benar menginginkanmu menjadi pendamping hidupku. Aku tidak main main. “, ujar Arya meyakinkan. Namun Gadis malah semakin terisak,

“ Bukan masalah itu . . . “, ujar Gadis sembari menahan air mata yang terus mengalir.

“ Dis? Kau tidak mau menjadi pendamping hidupku? Kau tidak mencintaiku? “, tanya Arya lagi. Gadis masih menangis,

“ Bukan itu. Aku mencintaimu, sungguh mencintaimu. Tapi . . . aku tidak bisa menikah denganmu . . . kakak . . . “

Komentar

share!