Oranye



Karya: Sayoga R. Prasetyo

Matahari begitu terik. Dedaunan sudah mulai keropos. Di ladang gersang seperti ini sangat sulit ditemukan air segar.

“ Kak, kok sepertinya tempat ini terlalu panas untuk dijadikan tempat perkemahan. “, ujar seorang anak dengan wajah kelelahan. Aldi menengok ke arah anak itu. Lalu tersenyum sembari menghapus keringatnya,

“ Biasanya hujan disini terjadi secara tidak teratur. Dan kebetulan sudah satu bulan hujan tidak turun disini. “, ujar Aldi.

“ Nanti kita kehausan dong kak! “, seorang anak kembali berkomentar. Aldi kembali tersenyum,

“ Tenang saja, nanti kita akan belajar bagaimana caranya mendapatkan air di tempat yang gersang. “, ujar Aldi. Tangannya masih asyik menebas – nebas ilalang kering yang menghalangi jalan menuju tengah ladang. Sesekali ia menengok ke arah anak – anak jangan sampai ada yang hilang satu orangpun.

“ Kakak, kok lama sekali sih sampainya? Apa tempatnya masih jauh? Aku ingin beristirahat dulu, aku lelah berjalan terus. ”, anak yang sama kembali berkomentar. Ya, sudah lebih dari 1 jam mereka berjalan menyusuri ilalang kering yang sudah kekuning – kuningan. Belum lagi kulit mereka serasa terbakar oleh sinar matahari.

“ Sebentar lagi. Sabar ya, kakak rasa tinggal 50 meter lagi “, ujar Aldi. Wajah mereka semua sudah mulai pucat. Lelah begitu terasa saat menjelang akhir perjuangan.

“ Nah itu dia kak Diva! “, ujar Aldi. Semua anak langsung menengok ke arah depan lalu berteriak dengan serempak,

“ Kakaaaaakkk!!! ”, mereka berlarian ke arah Diva. Aldi hanya bisa tersenyum kecil sambil menghapus keringat yang terus menetes dari dahinya.

“ Perkemahannya dimana kak? “

“ Ayo semuanya ikut kakak “, ajak Diva ke lokasi perkemahan yang tak jauh dari tempat itu. Anak – anak terlihat senang. Mereka semua lantas berjalan. Diva di depan barisan dan membimbing, sedangkan Aldi mengikuti mereka di belakang barisan sambil mengawasi.

“ Kak Aldi berarti jalannya lambat sekali ya? Kakak dan anak – anak perempuan sudah tiba disini sejak setengah jam yang lalu loh! “, ujar Diva.

“ Yaiyalah, Diva dan anak – anak perempuan kan berjalan melalui jalur yang sudah bersih. Sedangkan aku dan anak-anak laki – laki harus menebas – nebas ilalang dulu. “, gerutu Aldi dalam hati.

“ Nah, ini dia perkemahannya. “, ujar Diva manunjukkan perkemahan sederhana. Disana sudah berkumpul anak – anak perempuan sedang duduk di atas rerumputan. Meski rerumputan itu kasar, mereka tetap saja duduk – duduk disitu.

“ Huft . . . bagaimana? Apa dia akan datang? “, tanya Aldi dengan wajah serius. Diva menoleh,

“ Mudah – mudahan sih begitu. Dia bilang sedang di jalan. Kalau ia tidak datang maka malam ini aku tidak akan tidur disini dan mencari penginapan saja. Aku tak mau jadi satu – satunya wanita dewasa di acara ini. “, ujar Diva.

“ Ok, hey semuanya! Baik anak laki – laki maupun anak perempuan, cepat baris kesini! “, teriak Andy agak keras. Anak – anak yang sedang beristirahat disana itu langsung menoleh ke arah Andy dengan tatapan sinis.

“ Ih, kakak! Kita kan masih kelelahan! Kita ingin isitirahat dulu! “, teriak seorang anak dengan lantang.

“ Sekarang kalian baris terlebih dahulu. Kakak akan bagi kalian jadi 7 kelompok. Satu kelompok terdiri dari 7 orang. Sekarang cari teman sebanyak 7 orang. Dalam hitungan ke 10 kalian sudah membentuk 7 kelompok. Satu . . . dua . . . . tiga . . . ”, anak – anak itu teriak – teriak sambil berlarian. Mencari teman yang pas untuk menjadi kelompoknya. Diva dan Aldi terlihat akrab di belakang. Mereka sedang mengawasi.

“ Sembilan . . . SEPULUH! ”, seluruh anak langsung berhenti berlarian. Hanya Farah yang tidak punya kelompok. Seluruh anak langsung menertawakannya.

“ Nah, Farah. Karena kamu tidak berhasil mendapatkan kelompok, maka hukumannya . . . kamu akan tinggal satu tenda dengan Kak Diva. “, ujar Andy pada Farah. Seluruh anak – anak tertawa. Wajah Farah terlihat sedih karena itu berarti ia harus terpisah dengan teman - temannya.

“ Nah, sudah. Jangan menertawakan orang yang terkena hukuman. Sekarang kalian boleh bebas mau istirahat, main atau apapun. Oh ya, kalian silahkan pilih tenda yang kalian sukai. Di depan tenda sudah kakak pasang plat segitiga berwarna. Itu akan menjadi warna barung kalian. Dan kakak sarankan kalian jangan sampai salah pilih warna, karena setiap warna akan mendapat tugas masing – masing. Ada yang sulit, ada yang mudah. “, tukas Andy menjelaskan.

Anak – anak langsung berdiskusi di setiap kelompoknya. Terkecuali Farah. Ia terlihat murung sekali. Tiba – tiba seseorang menepuk pundak Farah. Farah menengok ke belakang . . . ternyata kak Diva,

“ Ayo ikut kakak. “, ujar Diva sambil memberikan senyum semangat pada Farah. Mereka berdua lantas berjalan menuju tenda kecil dengan plat oranye.

“ Jadi . . . kita satu kelompok kak? Kita barung oranye? “, tanya Farah. Diva tersenyum ke arah Farah,

“ Suuut . . . kamu akan disini bersama kakak hanya sampai matahari terbenam. Setelah itu kau bebas mau ikut temanmu lagi. “, ujar Diva. Wajah Farah tiba – tiba menjadi segar,

“ Wah, yang benar saja kak? Jadi Farah hanya dihukum sementara saja? “, tanya Farah. Diva mengangguk.

“ Kamu sedang dijahili Kak Andy. “, ujar Diva lagi. Farah jadi tersenyum lagi,

“ Huh . . . Farah kira Farah benar – benar akan dihukum sampai perkemahan ini selesai. “, ujar Farah dengan wajah ceria.

“ Kak Andy itu orangnya baik, ramah, dan tampan. Tidak mungkin ia menghukum Farah sekejam itu. “, ujar Diva. Wajah senyum senang terpampang jelas di wajah mereka.

“ Ayo, sekarang simpan dulu tas dan semua barang – barangmu! Kakak bawa banyak makanan lho! “, ujar Diva. Alisnya sedikit terangkat, bibirnya tersenyum.

“ Wah, kakak baik sekali “, ujar Farah. Tiba – tiba pintu tenda terbuka.

“ Wah, makan – makan nih “, Diva dan Farah langsung terkejut karena mendadak ada suara laki – laki di belakang mereka. Andy.

“ Eh, tuh ada kak Andy. “, ujar Diva. Farah hanya memasang senyum kecil.

“ Farah tidak marah kan? Apa hukuman ini terlalu berat buat Farah? Kalau Farah tidak mau disini juga tidak apa – apa kok, kesana saja bergabung dengan barung warna lain yang Farah mau. “, ujar Andy. Farah menggeleng.

“ Hukuman seberat apapun Farah akan menjalaninya kak. Bukannya kakak pernah bilang kalau kita harus jadi manusia yang tidak mudah menyerah? “, Farah membuat Diva dan Andy menganga. Mereka tak menyangka punya anak didik sebaik Farah.

“ Wah, Farah benar – benar anak pramuka yang hebat! “, puji Andy sambil mengelus – ngelus rambut Farah. Farah tersenyum.

“ Nah, kebetulan kakak bawa snack banyak nih . . . ayo kita makan bertiga! “, ujar Diva. Farah terlihat ceria sekali. Saat bungkus snack itu terbuka, mereka bertiga langsung berebut. Dan akhirnya mereka makan bersama diselingi tawa mereka bertiga.

Tak lama, snack sudah hampir habis. Diva mendekatkan wajahnya pada telinga Andy.

“ Bukannya seharusnya sekarang kau jaga anak – anak di luar ya? “, tanya Diva.

“ Kan sudah ada Aldi. Lagipula sekarang waktunya santai, diawasi satu orang juga sudah cukup. “, ujar Andy.

Tak lama setelah snack habis, Andy tiba – tiba keluar tenda,

“ Kakak mau kemana? “, tanya Farah.

“ Mau mengawasi barung – barung lain. “, ujar Andy.

“ Ayo Farah jangan diam saja disini. Tuh lihat teman temanmu sedang asyik bermain – main. “, Andy menyuruh Farah keluar. Dengan cepat Farah keluar dan berlari dengan girangnya ke arah teman – temannya yang sedang main kejar – kejaran. Andy berjalan ke arah yang sama. Namun dengan langkah perlahan. Ia Hanya ingin memastikan tidak ada satupun anak yang bermain – main terlalu jauh dari perkemahan.

Diva hendak keluar juga, menyusul andy. Tapi sebelumnya ia harus merapikan tendanya agar nanti malam tidak terlalu repot merapikan. Tiba – tiba seseorang masuk ke dalam tenda. Diva menoleh. Ternyata Aldi.

“ Katakan padaku “, ujar Aldi tidak jelas. Kening Diva mengkerut,

“ Apa maksudmu? “, tanya Diva kebingungan.

“ Kau masih menyimpan perasaan padanya kan? “, tanya Aldi. Diva masih bingung,

“ Apa maksudmu? “, tanya Diva lagi. Ekspresi Aldi terlihat semakin geram,

“ Daritadi aku diam di sebelah tenda ini dan aku tahu apa saja yang kau bicarakan. Kudengar kau memuji – muji dia. “, Aldi berkata dengan lantang. Sepertinya ia marah besar,

“ Aldi, tolong jangan bicara keras – keras . . . aku tidak mau kalau . . . “, belum selesai Diva bicara, Aldi sudah memotong pembicaraannya,

“ Dan saat ia masuk ke tenda ini, ku dengar kalian tertawa bersama. Iya kan? Apa yang kau lakukan dengannya barusan? “, tanya Aldi dengan ekspresi wajah orang marah.

“ Aldi, tenang dulu. Barusan aku hanya makan snack dengannya . . . ditemani Farah juga “, ujar Diva menjelaskan.

“ Bukankah kau juga sudah tahu kalau status aku dan dia hanya sebagai teman semata? Dia hanyalah mantan pacarku yang sudah tidak mungkin lagi kuberikan kesempatan untuk kembali jadi pacarku. Huh . . . Kau ini tipe orang yang mudah cemburu ya . . . “, ujar Diva.

“ Tentu saja! Diva, sekarang kau adalah pacarku. Ya wajar saja kalau aku sering emosi saat kau terlalu dekat dengan dia. “, ujar Aldi. Suasana mendadak hening dan lebih tenang dari sebelumnya. Diva kembali menyibukkan diri merapikan snack snack yang barusan sempat ‘tumpah’ saat berebut.

“ Ah, sudahlah. Aku ingin mencari udara segar dulu. “, tukas Aldi.

Aldi lantas keluar dari tenda itu dan berjalan menuju keramaian. Anak – anak masih saja asyik berlari – larian. Mungkin mereka belum pernah merasakan asyiknya berlari – lari di atas rerumputan.

Terlihat jelas Andy sedang bermain gitar di atas batu yang agak besar. Matanya masih terus mengawasi anak – anak.

“ Di “, Panggil Aldi. Andy menghentikan permainan gitarnya dan langsung menoleh ke arah Aldi. Ia langsung memalingkan wajahnya,

“ Apa? “, tanya Andy sinis.

“ Aku ingin bicara denganmu “, ujar Aldi.

“ Aku harus mengawasi anak – anak. Kalau mau mengobrol ya ajak bicara saja pacarmu itu. Kau kan sudah punya pacar . . . “, ujar Andy masih dengan wajah yang sinis. Matanya tidak mau melihat wajah Aldi.

“ Aku ingin bicara denganmu “, tukas Aldi lagi. Andy akhirnya mau menoleh,

“ Bicarakan saja disini agar aku tetap bisa mengawasi Anak – anak. “, tukas Andy lagi.

“ Aku ingin bicara denganmu. Ini pribadi. Aku tak ingin ada satu orangpun yang mendengarkan pembicaraan kita.

Mereka berdua lantas terdiam. Dan akhirnya Andy mau mengikuti apa yang Aldi mau. Andy langsung berdiri dari batu karang tempat duduknya lalu menyandarkan gitarnya tepat di samping batu itu.

Andy dan Aldi lantas berjalan menjauhi perkemahan.

“ Ini sudah cukup jauh. Aku yakin tak ada anak yang akan menemukan kita. “, ucap Andy. Mereka lantas berhenti.

“ Ok,apa yang ingin kau bicarakan padaku? “, tanya Andy. Aldi menarik nafas agak panjang, lalu menghembuskannya,

“ Kuharap ini adalah terakhir kalinya kukatakan hal ini padamu . . . “, ucap Aldi. Andy terlihat penasaran,

“ Tolong jangan kau dekati lagi Diva. “, ujar Aldi lagi. Andy malah tertawa,

“ Dia itu pacarmu, mana mungkin aku akan merebutnya “, ujar Andy. Aldi terlihat sedikit emosi,

“ Lantas untuk apa kau masuk ke tendanya barusan hah!? “, tanya Aldi. Andy semakin tertawa,

“ Aku hanya ingin melihat keadaan Farah. Aku takut ia sedih karena terpisah dengan teman – temannya. Apa itu tak boleh? Sebagai pembina pramuka yang baik kita harus bisa membuat seluruh anak didik kita senang dengan kegiatan pramuka. “, ujar Andy menjelaskan. Wajah Aldi terlihat sangat kesal,

“ Kau tak suka? Aku hanya bertindak profesional. “, ujar Andy lagi. Aldi terlihat semakin kesal,

“ Tapi itu terlalu berlebihan, hanya aku yang boleh dekat dengan Diva! “, ujar Aldi dengan wajah emosi.

“ Ah, kau ini orangnya mudah cemburu ya . . . aku rasa ini tidak perlu kita perbincangkan. Kita sedang bekerja, urusan cinta tidak boleh ikut campur. “, tukas Andy.

“ Heh, cinta itu buta, tidak kenal waktu dan tidak kenal batas! “, ujar Aldi agak keras.

 “ Sekarang katakan padaku dengan jujur . . . kau masih mencintai pacarku kan!? Iya kan!? “, teriak Aldi. Andy menarik nafas panjang,

“ Iya, aku masih menyimpan sedikit perasaan padanya. Meski begitu aku masih mencoba melupakannya. Aku ingin dia hidup bahagia denganmu. Lagipula, sudah ada wanita lain yang aku cintai sekarang “, ujar Andy.

Tiba – tiba terdengar suara desikan rumput, lalu dilanjutkan teriakan histeris seorang anak,

“ AAAAHHHH!!! “

Aldi dan Andy langsung menoleh ke arah sumber suara, mereka berdua langsung berhenti bicara. Aldi langsung berlari menerobos ilalang – ilalang untuk mencari tahu dimana suara anak itu.

Matahari sudah mulai terbenam jadi mereka agak kesulitan untuk melihat.

“ TOOLOOOONNNGGG!!! “

Anak itu kembali berteriak. Andy dan Aldi sudah merasa sumber suara itu sangat dekat dengan posisi mereka sekarang.

Dan ternyata seorang anak terperosok ke dalam lubang sedalam kurang lebih 2 meter. Mereka berdua sedikit terkejut.

“ Kakak . . . tolong! “, teriak anak itu lagi. Andy dan Aldi tidak tahu apakah itu anak pramuka didikan mereka atau mungkin anak yang tinggal di sekitar sini.

“ Di, kau bawa senter tidak? “, tanya Andy pada Aldi. Aldi langsung merogoh sakunya.

“ Ah yaampun, aku hanya bawa senter yang kecil ini. Dan aku rasa ini tidak akan kuat menyala dalam waktu lama. Terakhir kali aku gunakan senter ini cahayanya sudah mulai redup. “, ujar Aldi menjelaskan. Memang, itu adalah senter yang sangat kecil.

“ Ah biarlah “, Andy langsung merebutnya dari tangan Aldi. Dan ketika dinyalakan . . . memang benar, senter itu sangat redup.

Andy langsung menyorotkan senter tersebut ke dalam lubang, untuk mencari tahu bagaimana cara mengeluarkan anak itu. Dan ternyata . . .

“ Farah? Itukah kau? “, tanya Andy pada anak itu. Aldi juga menganga karena tak menyangka Farah bermain – main terlalu jauh dari perkemahan.

“ Iya kakak . . . tolong keluarkan aku dari sini . . .  “, Farah memelas. Lubang itu cukup besar sehingga Farah tidak terjepit di bawah sana.

“ Di, ayo kita tolong dia. “, ujar Andy. Aldi hanya diam saja seperti merenungi sesuatu.

“ Di! Farah butuh pertolongan kita! “, Aldi masih saja diam,

“ DI!!! ”, kali ini Andy mulai berteriak. Wajah Aldi mendekat ke telinga Andy,

“ Di, sepertinya Farah mendengarkan semua yang kita perbincangkan. Kalau kita tolong dia, dia akan menceritakannya ke Diva. “, ujar Aldi. Andy langsung terdiam. Benar juga apa kata Aldi.

“ Sudah, sekarang kita tolong dia keluar dari lubang itu dulu. Setelah itu kita bujuk dia supaya mau diam dan merahasiakan semua ini “, ujar Andy.

“ Kakak! Kenapa kakak malah ngobrol!? Tolong aku kak! Di bawah sini tidak nyaman! “, teriak Farah.

 “ Farah, apa yang kamu lakukan disini? Apa kamu mendengarkan pembicaraan kakak dan kak Andy barusan? “, tanya Aldi.

“ Aduuh kakak . . . nanti Farah jelaskan semuanya, tapi sekarang tolong Farah keluar dari sini dulu! “, ujar Farah. Andy dan Aldi masih saja terdiam seperti orang yang linglung,

Tiba – tiba seorang wanita muncul dari belakang Andy dan Aldi. Wanita itu membawa senter yang cukup besar dan sangat terang,

“ FARAH!!! ”, teriak wanita itu.

“ Kak Raina! Tolong aku kak! Huu . . .huu . . . “, teriak Farah diselingi suara tangisan. Raina langsung menengok ke arah Andy dan Aldi,

“ Kalian? Kenapa kalian tidak menolong Farah? Cepat tolong dia! “, ujar Raina.

Andy akhirnya lompat ke dalam lubang itu. Lalu menggendong Farah ke atas pundaknya. Aldi yang ada di atas langsung mengangkat Farah.

“ Tidak sulit kan menolong anak kecil? “, ujar Raina pada Andy dan Aldi. Farah langsung berlari ke arah Raina,

“ Kaki, tangan, dan seluruh badan Farah sakit semua kak . . . huu huu . . . “, Farah menangis di pelukan Raina.

“ Sudah, ayo kita ke perkemahan. Kita lihat mana yang terluka. “, ujar Raina menenangkan.  Raina dan Farah lantas berjalan ke arah perkemahan. Diikuti Aldi dan Andy di belakang mereka berdua.

“ Di, bagaimana ini? Bagaimana kalau Farah menceritakan semua ini pada Diva? “, bisik Andy pada Aldi.

“ Kita harus pintar mencari alasan. Dan tentunya kita harus kompak dalam memberi alasan. “, bisik Aldi. Memang, sudah tak ada jalan lagi untuk kabur dari masalah yang satu ini.

“ Mudah – mudahan Farah tidak Menceritakannya pada Diva. “, bisik Aldi. Andy menarik nafas perlahan,

“ Aku tidak yakin, anak perempuan seperti Farah tidak bisa menjaga rahasia. Aku yakin itu. “, bisik Andy. Mereka berdua langsung diam. Mereka sedang mencari alasan yang tepat untukmenutupi semua kejadian ini.
Akhirnya mereka sampai ke perkemahan. Disana anak – anak yang lain sedang asyik bernyanyi ria mengelilingi api unggun. Raina langsung berjalan perlahan menuju tenda barung oranye. Ia tidak mau menarik perhatian anak – anak yang sedang bersenang senang itu.

Tak lama setelah mengendap – endap akhirnya mereka berhasil masuk tenda barung oranye tanpa diketahui anak – anak lain.

“ Farah, apa yang sakit? “, tanya Raina pada Farah. Farah langsung memperlihatkan sikut dan lututnya yang berdarah. Raina langsung membuka tasnya dan mengambil obat luka.

Pintu tenda tiba – tiba terbuka, dan ternyata Diva.

“ Ah, Va . . . kebetulan kau datang. Aku butuh air untuk mengobati luka Farah. Apa disini tak ada sumber air? “, tanya Raina pada Diva. Diva hanya bisa menganga. Ia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.

“ Tunggu . . . Farah, kau terluka? Kenapa? “, tanya Diva pada Farah.

“ Ah sudahlah Va,aku butuh air secepatnya untuk mengobati Farah. “, ujar Raina pada Diva.

“ Ladang ini cukup gersang, berjalanlah ke arah utara. Sekitar 50 meter dari perkemahan ini ada sumber air. “, ujar Diva menjelaskan. Raina mengangguk,

“ Ayo Farah, kamu masih kuat berjalan sampai sumber air kan? “, tanya Raina pada Farah. Farah mengangguk. Lantas mereka berdua keluar tenda dan berjalan ke arah utara.

Di dalam tenda kini ada Aldi, Diva dan Andy. Aldi dan Andy saling diam. Mereka tahu mereka bersalah,

“ Apa yang kalian lakukan pada Farah? “, tanya Diva agak geram.

“ Seharusnya kami yang bertanya, kenapa kau tidak mengawasi anak – anak hingga Farah bermain – main sejauh itu? “, tanya Aldi pada Diva. Wajah Diva terlihat emosi.

“ Kalian tahu? Barusan ada ular masuk ke dalam tenda barung biru. Aku kewalahan karena aku seorang perempuan dan aku tak bisa mengalahkan ular. Kucari – cari kalian namun kalian malah menghilang entah kemana. Anak – anak sudah mulai ribut, dan waktu itu aku sangat panik karena ular itu mulai merajalela kemana – mana. Akhirnya kusuruh Farah mencari kalian. Tapi Farah tak kunjung kembali. Untungnya Raina datang. Dan akhirnya ia yang menangkap ular itu, membuat api unggun, lalu membakar ular itu. Raina dan aku khawatir akan keadaan Farah, jadi Raina pergi mencari Farah. Aku tak percaya Farah sekarang tubuhnya penuh luka seperti itu. “, Diva menjelaskan dengan sangat detail.

“ Aku harus menenangkan diri dulu. Kurasa aku butuh bersenang – senang bersama anak – anak di luar sana. “, ujar Diva lagi. Ia lalu keluar tenda dan berjalan mendekati anak – anak yang sedang bernyanyi bersama.

“ Ah Di, sepertinya aku juga butuh menghirup udara segar. “, ujar Andy pada Aldi. Andy langsung keluar tenda. Lalu berjalan entah kemana.

Tinggal Aldi yang termenung di dalam tenda. Lalu ia merebahkan diri. Bagaimana jadinya kalau Farah menceritakan semua pembicaraannya dengan Andy barusan?

Di luar Andy masih sibuk menghirup udara malam. Sangat sejuk.

“ Di “, terdengar suara seorang wanita memanggil dari belakangnya. Andy menoleh,

“ Eh, Raina. “, ujar Andy. Mendadak ia jadi sedikit gugup saat Raina datang. Entah mengapa . . .

“ Apa yang kau lihat? Ilalang tua yang sudah mulai layu? “, tanya Raina. Andy tertawa sedikit.

“ Tentu tidak. Aku berdiam diri disini hanya karena ingin menghirup udara segar. “, ujar Andy menjelaskan. Raina hanya tersenyum kecil.

Di dalam tenda barung oranye Aldi masih merebahkan diri. Tiba – tiba pintu tenda terbuka. Ternyata Farah. Terlihat jelas sikut dan lututnya ditempelkan kapas.

“ Farah, apa itu masih sakit? “, tanya Aldi. Matanya menunjuk – nunjuk ke arah lutut Farah,

“ Sudah mulai tidak sakit lagi kak. “, ujar Farah singkat. Tangannya sibuk mengeluarkan bantal dari tasnya.

“ Lho, kok sudah mau tidur? “, tanya Aldi.

“ Barusan kak Diva bilang kita semua sekarang harus tidur. “, ujar Farah. Kening Aldi agak mengkerut,

“ Ah, kak Diva ini bagaimana sih . . . sekarang kan belum terlalu malam . . . masa sudah mau tidur lagi sih? “, tanya Aldi lagi. Farah hanya diam saja. Sepertinya sepanjang hari ini ia benar – benar kelelahan dan benar – benar ingin instirahat.

“ Mmmm . . . Farah, apa kamu tadi mendengarkan pembicaraan antara kakak dan Kak Andy? “, omongan Aldi mulai menjurus ke masalah utama.

“ Pembicaraan apa? Farah waktu itu sedang mencari kakak dan kak Andy namun ternyata kaki Farah terpelosok ke lubang yang barusan . . . “, ujar Farah. Wajah Aldi mendadak jadi lebih ceria,

“ Jadi, kamu tidak tahu sama sekali? “, tanya Aldi meyakinkan. Farah mengangguk.

Pintu tenda kembali terbuka, Diva masuk ke dalam.

“ Kak Aldi mau tidur disini? Ini kan tenda perempuan. “, ujar Diva diselingi sedikit tawaan. Aldi juga ikut tertawa,

“ Sudahlah Va, aku hanya numpang tiduran disini. Tak apa kan? “, ujar Aldi. Diva mengangguk. Lalu merebahkan diri tepat diantara Farah dan Aldi.

Agak lama mereka bertiga tiduran, dan sepertinya Farah sudah benar – benar terlelap.

“ Diva “, bisik Aldi pada Diva. Ia sudah tahu kalau Diva hanya pura – pura tidur,

“ Diva sayang . . . “, saat mendengar kata – kata itu Diva langsung terbangun dan tertawa kecil,

“ Apa sih ih . . . “, bisik Diva pada Aldi.

“ Marah? “, tanya Aldi. Diva langsung mengerutkan keningnya,

“ Marah apa? “, tanya Diva.

“ Kukira kau marah karena Farah terluka barusan “, ujar Aldi. Diva tertawa kecil,

“ Yah . . . sedikit sih . . . tapi kurasa itu hanya luka kecil dan tidak terlalu bermasalah. “, ujar Diva. Mereka berdua lantas saling tersenyum.

Di luar sudah sepi. Anak – anak sudah masuk ke tenda mereka masing – masing. Di luar hanya ada Andy dan Raina. Ya, hanya mereka berdua.

“ Na, kau belum mau tidur? Kau tidur di tenda barung oranye kan? “, tanya Andy pada Raina.

“Iya, aku tidur bersama Diva dan Farah. Dan aku sekarang  belum mengantuk. Kalau mau tidur ya silahkan saja. Aku sudah terbiasa sendirian malam – malam. “, ujar Raina.

“ Ah tidak, aku ingin menemanimu disini. “, tukas Andy. Raina menoleh,

“ Wow, jarang sekali kau mengucapkan kata – kata itu padaku. Biasanya kau tidak peduli padaku. “, tukas Raina. Andy tersenyum kecil,

“ Memangnya tidak boleh ya? “, tanya Andy.

“ Boleh sih . . . hanya saja . . . terdengar aneh. Kau ini kan orangnya tidak pernah peduli dengan orang – orang di sekitarmu. “, ujar Raina. Senyum Andy semakin lebar saja.

“ Biasanya aku duduk sendirian di balkon rumahku. Menatapi Bintang – bintang di langit. Hanya itu yang setia menemaniku setiap malam. Bintang – bintang itu tidak pernah pergi dariku. “, ujar Raina. Andy sedikit merenung.

“ Na “, Andy memanggil Raina. Raina menoleh,

“ Apa? “, tanya Raina.

Mereka berdua lantas bertatap muka,

“ Izinkan aku menjadi bintangmu “

Jantung Raina tiba – tiba berdetak menjadi sangat kencang.

“ Aku berjanji ada disisimu setiap malam, dan aku berjanji tidak akan pernah pergi darimu. “, lanjut Andy. Raina sepertinya sedang mencoba mengatur nafasnya. Kedua pergelangan tangan Raina digenggam kedua tangan Andy. Mereka kembali bertatap muka,

“ Aku mencintaimu, Na “

Raina semakin mematung. Mereka berdua awalnya diam, namun beberapa detik kemudian Raina tersenyum manis.

“ Cie cie ciee . . . “

Andy dan Raina langsung menoleh. Ternyata Aldi dan Diva.

“ Ah, ternyata ini dia wanita yang kau cintai itu . . . hahaha “, ujar Aldi pada Andy diselingi tawaan.

Andy dan Raina tersipu malu. Mereka melepas genggaman tangan mereka.

“ Tak apa lah . . . kalian kan sudah dewasa, wajar saja. “, ujar Aldi lagi. Terlihat jelas Aldi menggenggam tangan Diva.

“ Ayo cepat terbang Di, katanya mau menjadi bintang . . . ahahahaha “, ujar Aldi menertawakan Andy. Semua langsung tertawa termasuk Andy.

Langit malam ini begitu cerah. Bintang bintang Terlihat bersinar terang. Angin malam yang meniup ilalang itu membuat suara desiran yang membuat rileks. Meski di tengah ladang seperti ini, malam tetap terasa indah. Cinta memang bisa merubah suasana.

Komentar

share!