Simak Baik-Baik


Karya: Sayoga R. Prasetyo

Agha berjalan dengan wajah santai. Ia baru saja keluar dari toko mainan untuk membeli setumpuk kartu remi. Entah apa yang menggugahnya untuk bermain kartu remi, yang jelas kali ini ia benar – benar ingin mengajak teman – temannya untuk bermain remi malam ini.

Memang, Citra dan Yoyok sedang menunggunya di rumahnya. Toh toko mainan hanya berjarak 100 meter dari rumahnya. Maka dari itu Agha rela jalan sendirian dan membiarkan kedua temannya itu menunggu di rumahnya.

Agha membuka pintu dan menyegerakan masuk ke ruang tamu. Tapi ada yang aneh . . .

“ Lho, Yoyok kemana? Ke kamar mandi yah? “, tanya Agha pada Citra.

“ Barusan saja ibunya menelpon. Ibunya berkata bahwa kakaknya Yoyok baru saja mengalami kecelakaan ringan di jalan. Dan Yoyok disuruh ibunya untuk datang ke lokasi kejadian. Tapi entahlah, aku tak tahu kejadian yang sebenarnya. “, ujar Citra menjelaskan.

“ Dimana lokasinya? Ia pasti tidak bisa menyelesaikan masalah sendirian. Aku harus datang kesana. “, ujar Agha sembari membongkar lemari di kamarnya. Sepertinya ia sedang mencari jaketnya.

“ Masalahnya aku juga tak tahu dimana lokasi kecelakaannya, Gha “, ujar Citra. Agha tiba – tiba menghentikan aktivitasnya,

“ Jadi bagaimana ini? “, tanya Agha kebingungan. Ia yakin saat ini Yoyok membutuhkan bantuannya.

“ Ya sudah mau bagaimana lagi . . . kita main kartu remi saja “, ujar Citra. Agha termenung. Lalu mengambil setumpuk kartu remi yang baru saja ia beli di toko mainan.

“ Apa boleh buat, ya sudah kita main berdua saja “, ujar Agha sembari memperhatikan setumpuk kartu remi tersebut di genggaman tangannya.

“ Tunggu dulu Gha . . . bagaimana kalau kali ini kita memainkan sesuatu yang berbeda “, ucap Citra.

“ Memainkan sesuatu yang beda? Apa maksudmu? “, tanya Agha. Kelihatannya Agha benar – benar tak mengerti atas apa yang baru saja diucapkan Citra.

“ Ahem . . . begini . . . bagaimana kalau . . . yang kalah harus melayani yang menang? Apa kau setuju? “, ucap Citra dengan wajah penuh senyum. Agha terdiam sejenak.

“ Kalau aku kalah maka aku akan memberikanmu satu permintaan dan aku akan mencoba untuk mengabulkannya. Tapi kalau kau yang kalah . . . ya sebaliknya. Setuju? “, tanya Agha. Tanpa berfikir panjang Citra langsung berkata,

“ Setuju! Tapi kau jangan memintaku untuk melakukan hal yang aneh – aneh ya “

*****

Permainan dimulai. Sedikit demi sedikit kartu mulai menumpuk di atas meja ruang tamu. Wajah mereka berdua sedikit agak pucat karena takut kalah.

“ Yes! “, teriak Agha dengan sangat keras. Ya, ia baru saja memenangkan permainan. Wajah Citra mendadak menjadi sangat pucat sekali.

“ Baiklah kuakui kau memang hebat dalam permainan ini. Sekarang apa yang harus kulakukan? “, tanya Citra. Agha termenung dengan agak lama. Bau masakan dari dapur mulai tercium hingga ke ruang tamu. Agha tiba – tiba kedatangan ide,

“ Aku ingin kau membantu ibuku memasak hingga selesai “, ujar Agha dengan sedikit senyuman. Ia sudah tahu kalau Citra tidak bisa memasak.

“ Agha, kau tahu kan aku tidak bisa memasak? Apa kau tak bisa memberi permintaan lain yang bisa kulakukan? “, tanya Citra dengan wajah memelas.

“ Aku ingin kau memasak bersama ibuku di dapur. SEKARANG. “, ujar Agha pada Citra.

“ Tapi aku tak bisa . . . mintalah sesuatu yang bisa aku lakukan “, ujar Citra kembali dengan wajah yang memelas.

“ Kalau kau tidak bisa melakukan ini, maka permintaanku akan menjadi 3. “, ujar Agha singkat. Wajah Citra semakin memucat saja. Pada kali ini ia tak bisa mengelak lagi.

Citra meniup poninya. Ia terlihat seperti orang yang malas hidup. Agha hanya tertawa ketika melihat Citra berjalan ke arah dapur.

Agha merapikan puluhan kartu yang berserakan di meja dengan wajah penuh senyum. Jarang sekali ia menang permainan dengan hati sebahagia ini.

Tak lama setelah puluhan kartu itu ditumpukkan dengan rapi, Agha berjalan menuju dapur.

Dan disana begitu mengejutkan. Dapur rumahnya menjadi sangat acak – acakan. Ibunya Agha dengan wajah emosi mendekati Agha,

“ Singkirkan teman bodohmu itu dan rapikan dapur ini. Sejak kedatangan anak itu beberapa menit yang lalu, ibu sudah merasa frustasi. Ah sudahlah, ibu mau tidur. Pokoknya ketika ibu sudah bangun, ibu ingin dapur ini sudah rapi kembali. MENGERTI!? “

“ Mengerti bu “, ujar Agha dengan wajah bersalah. Ibunya langsung melangkah ke tangga menuju kamarnya. Mungkin ia benar – benar ingin tidur.

“ Kau gagal. Permintaanku tidak bisa kau kabulkan. “, ujar Agha dengan mata yang sinis. Citra terlihat seperti orang yang melakukan kesalahan besar. Wajahnya kacau sekali. Agha kembali berkata,

“ Sekarang apa kau mau mengabulkan 3 permintaanku? “

“ Tapi tolong jangan pekerjaan seperti ini lagi! Mintalah apa yang bisa aku lakukan untukmu! “, ujar Citra dengan agak keras. Mungkin ia juga sedikit emosi pada Agha.

“ hmmm . . . baiklah. Ketiga permintaan ini aku yakin kau bisa melakukannya. “, ujar Agha. Citra terdiam. Agha mulai menyebutkan permintaan pertamanya,

“ Permintaan yang pertama . . . “

“ Simak baik – baik ya, jangan sampai salah. Aku ingin kau membereskan semua kerusakan yang telah kau buat ini dalam waktu lima belas menit. Mulai dari sekarang. “

Citra menyegerakan mengambil kain pembersih lalu segera membersihkan segalanya dengan cekatan. Hanya dalam waktu lima menit semua sudah kembali seperti semula. Citra tersenyum sombong. Agha mulai menyebutkan permintaan keduanya,

“ Permintaan kedua . . . Simak baik – baik . . . “

“ Aku ingin engkau mengerjakan tugas – tugas sekolahku. “

Citra terdiam sebentar. Lalu ia berkata,

“ Ok baiklah, mana tugas – tugas sekolahmu? “

Agha berjalan ke arah kamarnya. Lalu keluar dengan satu buah buku.

“ Kerjakan halaman 40 sampai 45 “, ujar Agha dengan santainya.

“ Apa? Gurumu gila ya? Soal sebanyak ini dijadikan tugas? “, tanya Citra. Mulutnya menganga.

“ Sudahlah jangan banyak omong. Kerjakan saja. Kalau sudah selesai beritahu aku. ”, ujar Agha. Citra langsung mengerjakan soal – soal itu dengan cekatan.

“ Gha, sudah tuh. “, ujar Citra pada Agha yang sedang terdiam menatap ke luar jendelanya.

“ Gha? Gha? Tugasmu sudah kuselesaikan tuh. Silahkan di cek lagi siapa tahu ada kesalahan “, ujar Citra lagi. Tetapi Agha masih saja menatap ke luar jendela. Entah ada apa diluar sana hingga Agha tak mau mendengarkan perkataan Citra.

Citra jadi penasaran. Ia berjalan perlahan mendekati Agha. Lalu melongok ke luar ada apa sebenarnya. Dan . . . tidak ada yang menarik. Hanya terlihat matahari yang bersinar terik tepat di atas mereka. Saat ini masih pukul 2 siang, jadi matahari masih begitu teriknya.Tanpa disadari kini mereka berdua sedang berdiri di ambang jendela tanpa memperhatikan objek apapun.

“ Permintaan keduamu sudah aku kabulkan. Lantas sekarang permintaan terakhirmu apa? “, tanya Citra.

“ Permintaan ketiga . . . Simak Baik – Baik . . .“

“ Aku Mencintaimu “

Citra menoleh dengan sangat cepat,

“ ha? “

“ Simak baik – baik ya, jangan sampai kau salah dengar. Aku ingin engkau jadi kekasihku. “, ujar Agha dengan wajah tenang. Citra tidak bisa mengontrol detak jantungnya.

Agha menatap matanya dalam dalam. Dan Citra membalasnya dengan senyuman.

“ Simak baik – baik ya, aku tak ingin kau pura – pura tak mendengar. “

“ Aku juga mencintaimu Gha “, ujar Citra. Kini mereka berdua tersenyum di ambang jendela.

“ Kau mau main kartu lagi? “, tanya Citra.

“ Tidak ah, yang penting rencanaku sudah berjalan mulus. “, ujar Agha diselingi tawaan kecil.

Suasana di luar masih sangat terik. Langit masih sangat biru. Ah, segalanya tiba – tiba jadi indah .

Komentar

share!