Pukul 7


Karya: Sayoga R. Prasetyo

Waktu sudah menunjukkan pukul 18.30. di luar sudah sangat gelap. Tita masih saja terdiam. Matanya sibuk menatapi pintu rumah makan sederhana itu. Di mejanya tergeletak piring kotor bekas nasi goreng yang ia makan barusan. Ia sedang menunggu waktu. Tepat pukul 7 malam kurang 5 menit maka ia akan keluar dari rumah makan itu dan langsung berjalan ke taman kota untuk menemui Randy.

Wajahnya terlihat begitu cemas bercampur bahagia. Cemas karena melihat detik demi detik jam dinding yang lambat sekali. Bahagia karena ia akan bertemu seseorang yang ia sukai.

Seorang wanita agak tua duduk tepat di depannya. Ya, tentu karena rumah makan itu sudah semakin penuh dan bangku depan Tita kosong. Tita menghapus lamunannya. Perhatiannya kini sudah bukan pada jam dinding lagi, tetapi malah pada wanita tua itu.

Umur wanita itu sekitar 40 tahun atau lebih. Sepertinya lebih pantas disebut tante - tante. Pakaiannya sangat rapi. Sepertinya wanita ini seorang pegawai negeri.

Wanita itu tiba – tiba tersenyum pada Tita. Tita langsung membalas senyuman wanita itu. Lalu kembali diam. Terlihat wanita itu membongkar tasnya, lalu mengeluarkan tissue untuk menghilangkan minyak yang menempel di wajahnya.

“ Sudah selesai makannya de? “, tanya Wanita itu dengan wajah yang ramah sekali.

“ Eh, sudah bu . . . hehehe “, jawab Tita dengan senyuman kecil.

“ Kenapa tidak langsung keluar saja? Rumah makan ini mulai penuh lho . . . saya saja barusan kebingungan harus duduk dimana. Untung saja saya melihat bangku disini masih kosong. Kalau tidak mungkin saya akan kelaparan. “, ujar wanita itu lagi.

“ Nanti saja lah bu, saya masih ingin duduk – duduk disini dulu untuk beberapa menit. “, ujar Tita.

“ Betul juga sih, lagipula di luar hujan cukup deras. “, ujar wanita itu. Tita langsung panik dan menatap ke luar,

“ Di luar memangnya hujan deras ya bu? “, tanya Tita dengan wajah sangat cemas.

“ Ya begitulah. Tidak terasa ya? Rumah makan ini terlalu ramai jadi kita tidak bisa memonitor keadaan diluar. “, ujar wanita itu menjelaskan. Tita semakin cemas. Ia takut Randy kehujanan di luar sana, atau mungkin jangan – jangan pertemuan malam ini dibatalkan.

“ Penampilan adek sangat rapi. Adek sedang menunggu orang ya? “, tanya wanita itu dengan wajah sinis. Ternyata wanita itu berhasil membaca pikiran Tita melalui ekspresinya.

“ Emm . . . iya bu . . . hehe “, ujar Tita diselingi tawaan kecil dari bibirnya.

“ Pacar? “, tanya wanita itu lagi. Wajahnya semakin sinis.

“ Iya . . . Eh, bukan bu . . . “, ujar Tita dengan wajah malu – malu. Randy memang bukan pacarnya, tetapi lelaki yang ia sukai selama ini.

“ Bukan atau belum? “, tanya wanita itu lagi. Tita semakin terdesak. Wajahnya semakin memerah. Ia mencoba membuang muka untuk menutupi rasa malunya.

“ Adek menyukai lelaki itu ya? “, tanya wanita itu lagi seolah – olah memang sengaja ingin menyudutkan Tita.
Untuk kali ini, Tita mengangguk perlahan sambil tersenyum.

“ Wah wah . . . ibu jadi merindukan masa muda. Ibu dulu juga sama seperti adek sekarang. Mengenal apa itu cinta, bagaimana rasanya mencintai, dan bagaimana rasanya dicintai . . . “, wanita itu menghentikan ucapannya sebentar. Menarik nafas lalu menghembuskan nafasnya secara perlahan.

“ Dan merasakan bagaimana rasanya dikhianati . . . “

“ Dikhianati? “, ujar Tita dengan wajah sedikit penasaran.

“ Ya, terkadang kita harus merasakan sesuatu yang indah, terkadang kita harus merasakan sesuatu yang tidak enak. Dalam hidup ini kita pasti pernah dikhianati. Terutama dalam hal cinta. Rasanya sangat sakit. Tetapi ya itulah cinta. Terkadang indah, terkadang menyakitkan. “, ujar wanita itu dengan wajah sedikit datar. Mungkin ia sedang bernostalgia dengan masa lalunya.

“ Ah, sudahlah dek. Tidak sepantasnya kita membicarakan itu. Ini rumah makan, tempat kita mengisi perut. “, ujar ibu itu sambil tersenyum. Tita menoleh ke arah jam dinding disana . . . ASTAGA! Sudah pukul 07.20! Ia segera merapikan pakaiannya dan menyegerakan berdiri.

“ Saya pamit ya bu, teman saya sepertinya sudah menunggu di luar. “, ujar Tita sambil tersenyum.

“ Silahkan. Sukses ya “, ujar wanita itu sambil tersenyum. Tita membalas senyuman itu seadanya. Sungguh sekarang ia sedang terburu – buru. Jangan – jangan Randy sudah menunggunya sejak setengah jam yang lalu.

Tita berjalan sangat cepat. Jalanan yang penuh dengan genangan air itu tidak ia hiraukan. Wajahnya sangat pucat. Nafasnya sedikit terengah.Taman kota sudah di depan mata. Tita hanya tinggal menyebrang jalan raya saja.

Namun, ia terlalu terburu – buru sehingga tidak memperhatikan ramainya jalan raya pada malam itu. Sebuah mobil menabraknya. Tita sempat terjatuh. Untungnya ia tidak pingsan. terlihat ada sesosok lelaki yang menjulurkan tangannya. Lelaki itu berpakaian jas hitam dan sangat rapi.

“ Tidak apa – apa kan? “, tanya orang itu. Ternyata orang itu adalah sang pengendara mobil.

“ Saya tidak apa – apa kok. Maaf saya barusan terlalu terburu – buru jadi tidak melihat mobil bapak. “, ujar Tita. Tubuhnya mendadak lemas. Bahkan kini ia tak bisa tersenyum.

“ Seharusnya saya yang meminta maaf karena tidak berhati – hati. Ya sudah adek saya tuntun ke pinggir jalan ya . . . biar saya tahu bagian mana yang terluka. “, ujar lelaki itu. Lelaki itu lantas menuntun Tita berjalan perlahan menyebrangi jalan raya. Orang – orang mulai berkerumun ingin melihat kecelakaan yang baru saja terjadi. Lelaki itu menyuruh Tita duduk di bangku taman. Lalu menyodorkan sebotol minuman,

“ Ini, adek minum saja dulu. Barusan tubuh adek terbentur mobil saya dengan cukup keras. Pasti sekarang adek merasa lemas. “, ujar lelaki itu dengan sangat ramah. Tita langsung meneguk air minum yang diberikan lelaki itu. Benar, rasa lemas yang barusan ia rasakan langsung hilang begitu saja. Penglihatannya yang barusan memburam kini sudah mulai jelas lagi.

“ Terimakasih banyak pak “, ujar Tita. Kini ia sudah mulai bisa tersenyum lagi. Lelaki itu membalasnya dengan senyuman.

“ Adek sepertinya terburu – buru ya? Kenapa? “, tanya lelaki itu.

“ Saya ada janji dengan seseorang pak . . . Kami berjanji akan bertemu di taman kota tepat pukul 7 malam dan ternyata saya terlambat. “, ujar Tita dengan jujur. Lelaki itu hanya mengangguk – anggukkan kepalanya. Entah apa maksudnya.

“ Oh ya, sekarang jam berapa pak? “, tanya Tita. Lelaki itu langsung melihat ke pergelangan tangan kanannya.

“ Sudah pukul 07.35 ”, ujar lelaki itu.

“ Aduh, saya harus segera mencari teman saya pak. “, ujar Tita sambil berdiri. Lelaki itu ikut berdiri.

“ Apa adek butuh bantuan saya? Saya takut adek pingsan. “, tanya lelaki itu. Sepertinya ia masih saja khawatir dengan kecelakaan yang barusan saja melibatkannya.

“ Mudah – mudahan tidak akan terjadi apa – apa pak. Kalau boleh, minuman ini buat saya ya. Saya rasa saya butuh kalau nanti saya tiba – tiba lemas lagi. “, ujar Tita dengan senyuman kecilnya. Lelaki itu akhirnya mengangguk.

“ Ya sudahlah, saya tinggal tidak apa – apa? Sepertinya semakin lama mobil saya diam di jalan raya seperti itu, maka jalan raya ini akan semakin macet saja. “, ujar lelaki itu sambil tersenyum.

“ Tidak apa – apa pak. Terimakasih atas minumannya pak “, ujar Tita. Lelaki itu mengangguk sambil tersenyum. Lalu berjalan ke arah mobil yang sedang diam di pinggir jalan itu. Sungguh lelaki itu ramah sekali.

Lamunan Tita langsung buyar. Ia langsung berjalan cepat mengelilingi taman kota. Taman kota pada malam hari ternyata minim pencahayaan. Jadi cukup sulit bagi Tita mencari Randy.

Kurang lebih 15 menit Tita berkeliling taman kota dan tak menemukan Randy. Air minum botol yang ada di tangannya sudah habis. Ia mulai merasa kelelahan. Ia kembali duduk di bangku taman. Tepat dimana ia duduk bersama lelaki yang menabraknya barusan. Kepala Tita menunduk. Ia melihat rerumputan malam yang terdiam. Seolah ingin membiarkan Tita kesepian untuk malam ini.

Tita mendadak lapar. Ia menengok ke arah kanan dan kirinya. Ah, tidak ada orang yang berjualan makanan. Eh, tunggu dulu. Ia seperti melihat seseorang di sebelah kanannya. Ia kembali melihat lebih jeli.
Ternyata Randy. Ia sedang duduk di bangku taman yang berjarak 10 meter dari bangkunya. Tita tersenyum kecil. Kelelahan yang ia rasakan sepanjang hari ini seolah terbayar. Randy terlihat duduk sendirian, seperti menunggu seseorang. Tita sangat yakin, pasti dirinyalah yang Randy tunggu.

Tita berjalan mendekati Randy. Baru saja 2 langkah, tiba – tiba terlihat seorang wanita mendekati Randy. Wanita itu nampaknya tidak asing lagi di mata Tita. Tita terdiam sejenak. Menghentikan langkah kakinya untuk merenung. Wanita yang duduk berduaan dengan Randy adalah . . . Hana, sahabat Tita.
Tita terdiam. Tak berani berkata – kata, tak berani bergerak sedikitpun. Tak lama kemudian Randy dan Hana berdiri, lalu berjalan berduaan. Tangannya bergandengan. Dan mereka berjalan menjauhi Tita. Terlihat senyum tawa di bibir mereka berdua.

Hanya Tita yang tidak bisa tertawa sedikitpun. Tubuhnya mematung. Mata Tita bergelimang air mata. Tetes demi tetes air mata keluar dari matanya yang indah itu. Ia sungguh tak percaya apa yang baru saja ia saksikan. Tubuhnya menjadi sangat lemas. Lebih lemas dibanding saat ditabrak mobil tadi.

Mungkin inilah yang disebut dengan sakitnya cinta . . .

Komentar

share!