Cintaku Bersemi di Kue Pogo


Karya: Sayoga R. Prasetyo

"Yun, belum ada gorengannya nih? “, tanya Anam pada Yuni.


“ Belum lah bang, ini masih pagi. Tumben masih pagi begini abang sudah datang. “, ujar Yuni dengan penuh senyum. Tangannya masih sibuk menggoreng gorengan. Anam duduk di depan warung Yuni dengan wajah kesal. Biasanya sebelum ia datang ke warung itu gorengan hangat sudah terpampang jelas. Tapi kali ini sepertinya Anam terlalu pagi datang kesana. Perutnya sudah mulai keroncongan.

“ Ya sudahlah. Kopi saja Yun. “, ujar Anam lagi. Yuni langsung mengeluarkan termos dari bawah meja.

“ Dingin sekali pagi ini .  .  . “, ujar Anam lagi. Yuni tersenyum kecil. Tangannya masih sibuk membuat kopi panas.

“ Kan sudah kubilang dari tadi, abang terlalu pagi datang kesini. Ini masih jam 5 lebih seperempat. “, ujar Yuni. Tak lama Yuni menyodorkan secangkir kopi. Asapnya masih mengepul. Entah air kopinya yang terlalu panas atau memang pagi ini suhunya terlalu dingin.

“ Pogo ada Yun? Abang lapar, butuh sedikit cemilan. Gorengannya lama sekali . . . “, ujar Anam masih dengan ekspresi sedikit kesal.

“ Tuh bang. Ambil saja sendiri. “, ujar Yuni. Matanya seperti menunjuk – nunjuk ke arah ujung meja. Makanan ringan masih bertumpuk disitu. Sepertinya Yuni belum sempat mengantung – gantungkan makanan ringan itu.

Kopi itu sepertinya masih terlalu panas. Anam belum mencicipinya setetes pun. Anam langsung mengambil makanan ringan pogo dan langsung memakannya dengan lahap. Sepertinya ia benar – benar kelaparan.

Benar, pagi ini sungguh sepi. Di desa kecil itu tak terdengar suara sedikitpun. Bahkan kicauan burungpun tak terdengar sama sekali.

“ Ini gorengannya, Bang. Masih panas. “, ujar Yuni sambil menaruh sepiring gorengan di atas meja. Asap gorengannya mengepul.

“ Terimakasih, Yun. “, ujar Anam sambil tersenyum kecil. Kaki kanannya naik ke atas kursi. Sarung yang ia pakai ia lilitkan di pinggang.

“ Oh, ya. Kini kau kuliah dimana Yun? Seingatku kau baru saja lulus SMA ya? “, tanya Anam.

“ Iya bang. Tapi sepertinya aku akan diberangkatkan ke Malaysia. “, ujar Yuni dengan wajah sedih.

“ Kau akan jadi TKW? “, tanya Anam lagi.

“ Ya begitulah bang. “, jawab Yuni singkat. Mata Anam langsung terbelalak.

“ Bah, bapakmu kan juragan minyak tanah di desa ini. Keluargamu adalah keluarga paling mapan di desa ini. Lantas mengapa kau tidak kuliah saja? “, tanya Anam. Sepertinya ia benar – benar penasaran.

“ Entahlah bang. Abah yang menyuruh. Aku hanya mengikuti apa maunya Abah. “, ujar Yuni.

“ Ah, sayang sekali. Kalau aku jadi kau, aku ingin sekali kuliah dan mengejar cita – citaku jadi seorang pejabat. “, ujar Anam. Wajahnya kini berubah jadi serius.

“ Kini aku sedang resah menunggu hasil pengumuman beasiswa. Huh, sungguh sulit hidup jadi orang susah seperti ini. Kalau aku punya banyak uang mungkin aku bisa kuliah dengan mudah.“, ujar Anam lagi. Wajahnya sangat serius. Sepertinya ia benar – benar merasa berat menjalani hidup menjadi seseorang yang datang dari keluarga miskin. Sejak lulus SMA, ia bekerja dulu satu tahun untuk mencari biaya kuliah. Dan sekarang ia harus berusaha mengejar beasiswa agar bisa kuliah. Hidupnya susah.

“ Tuhan itu Maha Adil bang. Meski Abang orang miskin, belum tentu abang tidak bisa kuliah. Asal abang mau berusaha pasti bisa kok bang. “, ujar Yuni menyemangati Anam. Tidak terasa, kopi di meja sudah tinggal ampasnya saja. Anam sudah menghabiskan 5 gorengan. Terkadang dengan mengobrol waktu jadi terasa lebih cepat.

“ Eh, bang. Sepertinya ini sudah jam 6 lewat. Abang tak mau berangkat bekerja? “, tanya Yuni. Anam yang kaget langsung menoleh ke belakang. Memang benar, ternyata matahari sudah mulai meyinari desa kecil tersebut. Anehnya, suasana sekarang masih sepi. Biasanya orang – orang disini sudah mulai ramai melakukan aktivitasnya masing – masing. Tetapi untuk hari ini . . . entahlah . . .

“ Jadi semuanya berapa Yun? “, tanya Anam dengan wajah tergesa – gesa.

“ Enam Ribu bang “, ujar Yuni. Anam segera berjalan cepat menjauhi warung Yuni. Dan ia lupa mengucapkan terimakasih pada Yuni. Yuni hanya bisa memperhatikan kelakuan Anam. Sudah sangat sering Anam lupa waktu seperti itu. Dan Yuni hanya bisa tertawa kecil melihat kekonyolan Anam yang tidak bisa disiplin waktu.
 
Keesokan harinya,

Anam bangun terlambat. Biasanya ia bangun pukul 5 pagi, dan ternyata hari ini ia bangun pukul 6. Ia langsung mandi dengan tergesa – gesa. Lalu berjalan cepat menuju warung Yuni.

Sesampainya di warung Yuni, Anam langsung duduk di kursi. Beberapa tukang ojek yang sedang santai ngopi disitu mendadak bingung karena kedatangan seseorang dengan nafas terengah – engah.

“ Wah bang, tumben datang siang. Gorengannya sudah tinggal sedikit lagi tuh. “,  ujar Yuni ramah. Anam masih mencoba mengatur nafas.

“ Pogo aja deh Yun. “

“ Pogo? “, Yuni terheran – heran.

“ Iya, snack yang kemarin itu lho. Masih ada gak? “, tanya Anam.

“ Masih bang. Nih. “, ujar Yuni sambil menyodorkan beberapa bungkus snack Pogo.

“ Wah, gara – gara kemarin Yuni terlambat bikin gorengan, sekarang abang jadi suka snack Pogo. “, tukas Yuni sambil tertawa. Anam tidak bicara sama sekali. Mulutnya sibuk melahap makanan ringan tersebut.

“ Enak ya bang? “, canda Yuni. Anam masih juga tidak mau bicara. Namun kali ini ia mengangguk – anggukan kepalanya sambil menahan tawa.

Dalam waktu 15 menit Anam ternyata bisa menghabiskan banyak snack.

“ Pogo nya masih ada Yun? “, tanya Anam. Sepertinya ia benar – benar kelaparan.

“ Habis bang. Besok pasti Yuni siapkan yang lebih banyak untuk Abang. “, ujarnya sambil tertawa. Entah mengapa daritadi Yuni terus terusan tertawa. Padahal tidak ada yang lucu.

“ Ya sudah. Gorengannya abang beli tiga ribuan saja Yun. Lumayan buat ngemil dijalan. “, ujar Anam. Yuni masih saja tertawa.

“ Nih bang. Harusnya abang beli jam tangan supaya tidak terlambat terus. “, ujar Yuni sambil menyodorkan kantung plastik berisi gorengan. Anam tidak menghiraukan perkataan Yuni. Ia sedang terburu – buru.

Untuk yang kedua kalinya Anam langsung pergi tanpa mengucapkan terimakasih pada Yuni.

Hari berikutnya,

Untuk kali ini ia tidak mampir ke warung Yuni. Ia sibuk mempersiapkan diri berangkat ke kantor pos untuk mengambil surat dari pihak universitas. Ia sungguh gugup. Tetapi di balik kegugupannya, Anam ternyata masih menyimpan semangat. Ia begitu optimis akan berhasil mendapatkan beasiswa. Ia yakin, dengan bantuan doa dari Yuni maka ia akan berhasil.

Kakinya melangkah perlahan. Untuk sampai ke kantor pos benar – benar dibutuhkan perjuangan. Bagaimana tidak, jalan yang ditempuh cukup jauh. Ia harus menyebrang desa dan menempuh jalan yang penuh dengan bebatuan terjal. Belum lagi ia harus menyebrangi sungai kecil pembatas antar desa.

Sesampainya di kantor pos, Anam masih belum berani masuk. Ia mencari toilet dulu. Kakinya penuh lumpur dan tanah. Alas kakinya rusak. Ia berdoa semoga semua jerih payahnya ini terbayar oleh keberhasilannya mendapatkan beasiswa.

Anam keluar dari toilet. Alas kakinya ia jinjing. Wajahnya terlihat kebingungan. Ia malu alau harus masuk ke dalam kantor pos tanpa alas kaki. Tapi, ya sudahlah. Apa daya ia adalah orang tak berpunya. Uang 20 ribu rupiah cukup berharga untuk makan daripada hanya untuk membeli alas kaki.

Akhirnya ia memberanikan diri masuk ke dalam.

Cukup lama ia di dalam. Entah apa yang terjadi. Yang jelas matahari sudah mulai panas. Hari mulai terik.
Akhirnya Anam keluar. Dan masih menjinjing sandal tipisnya yang sudah tidak bisa dipakai itu. Ia berjalan ke arah kursi yang kosong. Mencari tempat duduk untuk beristirahat. Halaman kantor posnya ternyata lumayan nyaman untuk dijadikan tempat istirahat. Banyak disediakan kursi untuk duduk – duduk santai.

Dan disana ternyata cukup ramai dipenuhi banyak orang dari berbagai desa. Maklum, orang desa hanya bisa mengandalkan kantor pos untuk berkomunikasi. Jadi tempat ini selalu ramai setiap harinya.

Anam sempat menikmati udara segar disana. Tapi ia teringat, ia belum membaca isi dari surat yang ada di tangannya tersebut. Amplop cokelat itu akhirnya ia buka perlahan. Jantungnya berdetak kencang sekali. Tentu sangat sedih rasanya jika perjuangannya selama ini ternyata terbayar oleh kegagalannya mendapatkan beasiswa.

Tangannya sedikit gemetar. Kertas berwarna kuning itu ia keluarkan dari amplopnya. Lalu ia baca tulisan . . .
LULUS !!!

Anam langsung kembali ke rumahnya dengan wajah bahagia. Akhirnya cita – citanya melanjutkan pendidikan bisa tercapai. Meski harus melangkah menyebrang sungai dan mengijak kerikil – kerikil tajam, rasanya semua rasa sakit itu hilang. Rasa bahagia yang ia rasakan saat ini bisa mengalahkan segala rasa sakit yang ia rasakan.

Anam berjalan melewati warung Yuni. Terlihat tutup. Bahkan seingatnya, tadi pagi pun warung ini tidak buka. Anam menghentikan langkahnya. Lalu memperhatikan keanehan warung Yuni. Akhirnya ia memutuskan mampir dulu ke warung Yuni. Sekalian ingin mengabarkan pada Yuni kalau ia kini sudah berhasil menjadi seorang mahasiswa.

Anam mengetuk pintu dengan perlahan. Tak lama seorang ibu lanjut usia membukakan pintu. Beliau adalah ibunda dari Yuni.

“ Eh, nak. Ada apa? “, tanya Ibu itu.

“ Yuni ada bu? “, tanya Anam. Ibu itu sedikit mengerutkan keningnya.

“ Namamu siapa? “, tanya ibu itu. Anam sedikit kebingungan. Ia bertanya, ibu itu malah bertanya balik.

“ Nama saya Anam bu. Hampir setiap pagi saya suka sarapan pagi di sini. “, ujar Anam dengan sedikit tersenyum.

“ Masuklah nak. “, ujar ibu itu dengan sangat ramah.

“ Oh, ya bu. “, ujar Anam sambil tersenyum. Ibu itu langsung terpaku pada penampilan Anam yang lusuh. Kulitnya menghitam karena terbakar sinar matahari. Kakinya membengkak bercampur lumpur bahkan ada sedikit luka.

“ Nak, silahkan bersihkan dulu kakimu. Kok penuh lumpur seperti itu. “, ujar Ibu itu sambil menunjuk ke pintu kamar mandi.

“ Oh iya, maaf sekali bu penampilan saya sedikit tidak rapih. “, ujar Anam. Lalu ia berjalan ke arah Toilet untuk membersikan kakinya yang lusuh itu.

Anam akhirnya keluar dari toilet. Kakinya memang sudah tidak kotor lagi. Namun kini luka – luka kecil yang ada di telapak kakinya malah jadi terlihat jelas. Ia berjalan ke arah ruang tamu. Ibunya Yuni sedang duduk disitu sambil memperhatikan sebuah kotak berwarna merah. Anam duduk di depan ibu itu sambil memasang senyum.

“ Ini . . . dari Yuni untukmu nak. “

“ Lho, apa ini bu? “, tanya Anam sambil memperhatikan kotak itu dengan serius.

“ Buka saja. “, ujar ibu itu. Anam langsung membuka kotak merah itu secara perlahan. Dan ternyata isinya . . . kue ulang tahun yang diluarnya dihiasi snack pogo. Anam semakin bingung.

“ Saya tidak ulang tahun bu. Sepertinya Yuni salah tebak. “, ucap Anam. Ibu itu hanya tersenyum kecil.

“ Tadi malam, Yuni sudah berangkat ke bandara. Ia kan jadi TKW di malaysia. Dan ia berpesan pada ibu supaya kue ini diantarkan ke rumahmu. Eh, kebetulan kamu mampir kesini jadi ibu tidak perlu datang ke sana. “, ujar ibu itu dengan penuh senyum. Wajah Anam langsung memucat. Ia tak menyangka kalau Yuni akan pergi ke Malaysia secepat ini.

“ Saya belum perpisahan dengan Yuni bu. “, ujar Anam dengan wajah sedih.

“ Dan saya belum sempat menyatakan perasaan saya padanya. “, sungguh . . . Anam frontal.

“ Ehm . . . saya keluar dulu ya, sudah agak sore, saya mau mengantarkan barang dulu ke tetangga sebelah. “, ujar ibu itu. Kini Anam sendirian. Memperhatikan kue bertaburkan snack pogo. Entah, sepertinya itu akan menjadi kue paling tidak enak. Dimana ada percampuran antara manis dan gurih. Anam tak mau memakannya. Ia hanya memperhatikannya. Meski kedengarannya tidak enak, tetapi ini adalah kenang – kenangan terakhir dari Yuni. Mungkin Yuni akan kembali kesini tahun depan.

Wajah Anam murung. Kebahagiaannya terasa tidak berarti sama sekali. Yuni, seorang wanita penjaga warung yang sederhana itu memang telah menjadi wanita yang ia incar beberapa bulan terakhir ini. Itulah sebabnya ia selalu sarapan pagi di warung Yuni. Supaya bisa mengenal satu sama lain.

Anam menarik nafas panjang. Entah apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia bingung, mengapa ia selalu hidup melarat. Ia jarang sekali beruntung. Satu kali saja ia beruntung, beberapa jam kemudian ia mendapat sial.

“ Kok gak dimakan bang? Gak enak ya? “

Seseorang keluar dari dalam rumah lalu duduk di depan Anam sambil tersenyum.

Ternyata Yuni.

“ Bang? Kok diam saja? “, tanya Yuni. Anam masih menganga.

“ Tadi malam kau berangkat ke Malay kan? “, tanya Anam. Yuni menggeleng.

“ Ibuku ternyata asyik diajak kerja sama .  .  . “, ujar Yuni sambil tertawa. Anam baru saja dijahili. Sial.

“ Kaki abang terluka ya? Sini aku obati. “, ujar Yuni tulus. Anam tak mampu berbicara sepatah katapun. Ia masih menganga. Ini adalah pertama kalinya ia dijahili orang lanjut usia.

Kaki Anam diobati Yuni. Suasana jadi hening. Tak ada satupun yang berbicara.

“ Ahm . . . katanya mau menyatakan perasaannya nih bang . . . “, ujar Yuni menggoda.

“ Eh! Jadi kau dengar semuanya!? ”, mata Anam terbelalak lagi.

“ Ya tentu saja bang. Dari tadi aku diam di belakang. “, ujar Yuni sambil tertawa kecil. Tangannya masih sibuk membalut kaki Anam dengan perban tipis.

“ Ok, baik. Abang sudah terpojok . . . Abang menyukaimu Yun. “, tukas Anam singkat. Yuni tersenyum. Ternyata memang sejak kemarin Yuni sudah merencanakan semua ini. Dan semua berjalan lancar.

“ Aku juga. “, ucap Yuni. Mereka berdua lantas tersenyum bersama. Mendadak suasana hening sesaat.

“Eh iya, abang dapat beasiswa Yun. “, ujar Anam dengan wajah kembali bahagia. Yuni hanya tersenyum.

“ Seperti yang aku bilang bang, tidak ada yang tidak mungkin jika abang mau berusaha. “, tukas Yuni. Kini tangannya sibuk merapikan gunting dan perban. Kedua kali Anam sudah terbalut Perban.

“ Oh iya bang, silahkan dimakan kuenya. Sesuai janji Yuni, hari ini Yuni kasih snack pogo yang banyak. Khusus buat abang. “, ucap Yuni mempersilahkan. Anam langsung mengambil salah satu potongannya. Rasanya . . . sangat aneh. Ada gurih, ada manis,

Ah, ya sudah lah dimakan saja . . .

Komentar

share!