Siluet Merpati

Karya: Sayoga R. Prasetyo

"Dear Diary,

Aku masih hidup. Andre sudah tiada. Lantas apa yang harus aku lakukan ya Tuhan? Kau bilang jodoh itu ada di tanganmu. APA BUKTINYA? Bertahun - tahun aku mencari cinta, dan aku tak pernah menemukan jodohku sendiri. Dan ketika aku menemukan seseorang yang tepat untukku, Engkau mencabut nyawanya. Ya Tuhan, izinkan aku untuk mengejar Andre. Aku tak bisa hidup sendirian lagi di dunia ini...”

Pena sederhana itu masih menempel di tangan Andin. Namun ia tidak mau meneruskan tulisannya barusan. Mendadak ia jadi ingat Andre, mantan pacarnya yang baru saja tewas kecelakaan sebulan yang lalu.

Terakhir kali bertemu mereka membicarakan acara pertunangan mereka yang akan dilaksanakan sebulan lagi. Ya, jika Andre masih ada mungkin hari ini adalah tepat hari pertunangan mereka. Itulah sebabnya mengapa Andin menulis buku harian untuk yang terakhir kalinya. Tali tambang yang tebal sudah ia siapkan tepat di sebelah buku hariannya. Beberapa jam lagi ia sudah siap untuk mengejar Andre ke alam yang berbeda.

Pena sederhana itu masih menempel di tangannya seolah – olah hendak menuliskan beberapa kalimat lagi di buku hariannya namun ia bingung mau menulis apa lagi. Sedangkan sunset sudah terlihat jelas lewat jendela kecil yang tepat berada di depannya. Buku hariannya sudah tersinari matahari sore yang keemasan. Andin sudah berjanji dengan dirinya sendiri, tepat saat buku harian ini sudah tidak tersentuh matahari sore lagi maka ia akan menggantungkan diri di kamarnya. Ya, tepat saat matahari terbenam sepenuhnya maka ia akan langsung mencekik dirinya sendiri.

Tiba – tiba ada bayangan yang membuat buku hariannya tidak tersentuh sinar matahari lagi. Andin mendongak. Seekor merpati berwarna putih dengan mata agak kemerah – merahan hinggap di jendelanya. Andin terus memperhatikan burung itu. Tepat di kakinya ada secarik kertas yang terikat sebuah pita berwarna merah. Andin mengambilnya.

“Hi”

Hanya dua huruf itu saja yang ia lihat di secarik kertas kecil itu. Ia bingung. Sedangkan si burung merpati masih saja terdiam menunggu Andin membalas surat itu.

Andin membuka buku hariannya tepat pada halaman paling belakang. Lalu menyobeknya sedikit untuk menulis surat balasannya.

“Kau siapa?”

Sejenak Andin menggulung kertas itu lalu mengikatkannya ke kaki merpati dengan pita yang sama. Burung itu kembali terbang keluar. Andin hanya bisa memperhatikan ke luar. Matahari terus saja turun ke bawah. Ia tidak peduli siapa pengirim surat itu. Ia tetap kukuh dengan pendiriannya untuk segera bunuh diri malam ini. Meski sang pengirim surat itu terus menghalanginya...

Andin menutup buku hariannya. Ia rasa sudah tidak ada lagi yang harus ditulis. Seketika bayangan burung merpati kembali menghalangi cahaya matahari. Andin kembali mengambil secarik kertas di kaki burung merpati itu,

“Rahasia”

Andin terdiam. Pena sederhana itu masih ada di tangannya. Kembali ia buka buku hariannya lalu ia sobek sedikit kertas dari halaman belakang buku hariannya itu. Namun kali ini agak besar,

“Biar kudatangi tempatmu sekarang juga! Tolong jangan main – main dengan saya ya”

Merpati itu kembali terbang untuk mengantarkan pesan dari Andin ke orang tak dikenal itu. Namun tak sampai satu menit berlalu, burung itu sudah hinggap lagi di jendela kamar Andin. Dengan cekatan Andin membuka pesan itu,

“Silahkan saja, aku ada di dekatmu”

Emosi Andin tiba – tiba berubah menjadi rasa takut yang teramat sangat. Dengan perlahan Andin memperhatikan sekitarnya. Sepi. Orang tua Andin sedang mengantarkan Didi, adik Andin yang hari ini wisuda. Dan mereka semua belum pulang hingga detik ini.

Sungguh Andin jadi ketakutan, jangan – jangan orang itu mau merampok rumahnya. Dengan perlahan ia keluar kamar, lalu mengecek semua pintu dan jendela rumahnya.Sudah aman.

Akhirnya ia kembali ke kamarnya dengan raut wajah yang resah. Ia lihat burung merpati masih saja hinggap di ambang jendela kamarnya. Nampaknya hewan itu sedang asyik menikmati hangatnya matahari yang sudah tenggelam setengahnya. Namun nampaknya . . . ada pesan baru yang belum dibaca Andin. Dengan cepat Andin mengambil kertas itu lalu ia baca tulisan yang tertera disana,

“tidak usah repot – repot mendatangiku. Biar aku saja yang mendatangimu”

Andin semakin shock. Jantungnya berdebar dengan sangat cepat. Sebenarnya siapakah orang misterius ini? Apa yang dia inginkan? Dengan cepat Andin mengambil penanya dan segera menulis balasannya,

“kapan kau akan datang?”

Jari jemari Andin bergetar. Ia ketakutan akan didatangi kawanan perampok dan merampok harta benda orang tuanya.

Sudah lebih dari 5 menit burung merpati itu tak kunjung datang. Andin semakin resah. Jangan – jangan orang itu sedang menuju rumahnya.

“Merpati itu kejam sekali”

Andin sangat kaget. Ia langsung menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang berbicara barusan.
Tubuh Andin tiba – tiba mematung, jantungnya serasa berhenti berdetak, nafasnya tertahan, matanya terbelalak . . . Andre ada di belakangnya . . .

“Barusan sudah kubalas ‘sekarang’ eh ternyata burung itu mencari makan dulu. Sungguh burung sialan”
Andin tak mampu berbicara sama sekali. Pena yang sedari tadi menempel di tangan kanannya mendadak lepas dan terjatuh. Nafasnya pun jadi sangat tidak beraturan. Andre hanya memasang wajah bingung melihat tingkah Andin yang mematung itu.

“Kau kenapa?”, tukas Andre sambil tersenyum.

“A . . . a . . . aku . . . k . . .kau . . . aku . . .”, Andin jadi tak mampu berbicara satu patah katapun.

Andre hanya diam, tapi terus mempertahankan senyumannya. Andin menarik nafas panjang,

“Jadi . . . kau masih hidup?”, tanya Andin.

“Tentu tidak, aku sudah mati” jawab Andre. Andin termenung,

“Tolong katakan kalau aku sedang menjelajahi alam mimpi . . .”, ujar Andin sembari memejamkan matanya.

“Tidak, kau tidak bermimpi. Ini aku.”

“Lantas mengapa kau bisa hidup lagi?” tanya Andin. Andre menghirup nafas dalam – dalam lalu kembali berbicara,

“Sekarang aku hanya halusinasimu belaka”

“eh?”, Andin tiba – tiba menatap dalam dalam mata Andre.

“Sulit untuk dijelaskan. Kehidupan setelah kematian sangatlah rumit”, ucap Andre. Andin malah semakin terdiam dan terus menatap mata Andre dalam dalam.

“Ah sudahlah, aku hanya ingin menyapamu saja. Apa kau sudah makan?”, tanya Andre. Lamunan Andin tiba – tiba buyar dan langsung berkata,

“Belum”

“Yasudah, nanti setelah kepergianku kau makan ya, supaya tidak sakit.”, ujar Andre singkat. Andin menatap ke luar jendela, matahari tinggal seperempatnya lagi. Berarti beberapa menit lagi ia akan menggantungkan dirinya demi Andre.

“Memangnya, kapan kau akan pergi?”, tanya Andin. Matanya masih saja fokus menikmati menit – menit terakhirnya di dunia ini. Terlihat bayangan merpati sedang terbang menuju jendela kamarnya. Andin memperhatikan merpati itu dengan seksama.

Tak lama burung itu hinggap juga di ambang jendela kamar. Andin membuka surat itu sambil tersenyum. Ia sudah tahu, isinya pasti : ‘sekarang’

Namun . . . tunggu . . . Andin menengok ke belakang. Andre sudah tidak ada dibelakangnya lagi. Namun kali ini ia hanya tersenyum, bahkan tertawa sendiri,

“Dari dulu, sejak kau masih ada di sampingku hingga kini kita berbeda alam . . . kau benar – benar hobi menjahiliku ya . . . dasar nakal”, ujar Andin. Merpati itu hanya bisa menatap keanehan Andin.

Matahari sudah terbenam sepenuhnya. Buku harian yang ia tinggalkan di mejanya sudah tidak tersentuh cahaya matahari lagi. Andin masih saja tersenyum. Inilah senyuman terakhirnya di dunia ini. Ia sudah bersiap untuk pergi selama – lamanya.

Andin beranjak keluar kamar. Lalu ke ruang tengah untuk melihat foto keluarganya. Mungkin ia akan rindu pada seluruh keluarganya di alam akhirat nanti.

Setelah agak lama menatap foto keluarga, Andin pun kembali ke kamarnya dengan pendiriannya untuk segera bunuh diri. Namun . . . talinya hilang! Merpati itu pun sudah tidak ada di ambang jendela kamarnya. Andin hanya bisa termenung. Diam. Suasana sekitar mulai diiringi alunan harmoni jangkrik. Andin menatap ke luar. Sudah gelap.

Andin kembali berfikir, untuk apa bunuh diri? Sedangkan keluarganya dan Andre masih mengharapkannya untuk hidup, Orang tuanya masih ingin menggendong cucu, dan Tuhan ingin ia berusaha untuk menjadi seseorang yang berguna . . .

Andin membaringkan tubuhnya di kasur. Sejenak ia mencoba untuk rileks. Tiba – tiba ia berubah pikiran. Ia ingin hidup. Ia ingin berpetualang. Dan ia yakin jodohnya masih ada di dunia ini. Ah, sudahlah . . . sekarang saatnya makan malam . . .

Komentar

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!