Coffee Cup and Lemon Tea

Karya: Sayoga R. Prasetyo

"Hari ini aku ada waktu luang. Kita makan malam yuk!", begitulah isi pesan singkat yang dikirimkan Rudi pada Aisyah.

Aisyah agak ragu sebab ini adalah pertama kalinya Rudi mengajaknya jalan - jalan. Biasanya Rudi begitu sibuk dengan pekerjaannya sebagai manager keuangan di salah satu perusahaan ternama di Indonesia.

"Baiklah. Kau akan menjemputku jam berapa?"

Tak lama kemudian, Aisyah kembali mendapat jawaban,

"Tugasku sudah hampir selesai kok. Tunggu saja sebentar lagi aku akan segera pulang dari kantor dan langsung menjemputmu."

Aisyah kemudian bergegas mempersiapkan diri. Rudi memang bukanlahh orang yang tepat waktu. Namun tetap saja yang namanya wanita pasti ingin cepat - cepat berangkat.

Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Berarti sudah sekitar setengah jam Aisyah menunggu kedatangan Rudi. Terlihat dari arah barat hanyalah terlihat matahari keemasan yang terus menenggelamkan diri. Sungguh membosankan. Aisyah hendak mengiriminya pesan singkat lagi meski sudah 4 kali gagal terkirim. Namun, baru saja tangannya menggenggam handphone, di kejauhan sudah terlihat mobil mewah yang melaju ke arah rumahnya. Aisyah mengurungkan niatnya dan langsung berjalan ke halaman depan rumah.

Mobilnya langsung berhenti dan Rudi menyegerakan keluar,

“Aduh, maaf barusan ada masalah dengan mobilku”, kata Rudi sambil tertawa kecil.

“Tidak apa apa kok, tidak masalah. Yang penting kita berangkat” ujar Aisyah. Rudi langsung mempersilahkan Aisyah untuk masuk ke dalam mobil dengan sangat sopan.

Mobilpun melaju. Wajah Rudi masih penuh senyum. Tentu karena ini adalah hari pertama ia mengajak orang yang ia sukai untuk makan malam. Rudi sudah mempersiapkan mentalnya. Tepatnya setelah makan malam nanti ia akan mengatakan perasaannya yang sesungguhnya, yang telah ia pendam selama beberapa bulan terakhir ini.

“ Kita akan makan malam dimana? ”, tanya Aisyah. Lamunan Rudi langsung buyar seketika.

“  Eh . . . apa? ”

“ Kita akan makan malam dimana? “, ulang Aisyah.

“ Rahasia. Pokoknya makanannya enak. “, tukas Rudi sambil tersenyum. Kata – kata itu membuat Aisyah semakin penasaran.

Akhirnya mobil itu berhenti di depan sebuah kafe malam. Setelah mematikan mesin mobilnya Rudi langsung mempersilahkan Aisyah untuk keluar. Wow, di luar ternyata cukup dingin dan membuat tubuh Aisyah sedikit menggigil. Rudi mengunci mobilnya. Lalu berjalan ke dalam kafe tersebut bersama dengan Aisyah.

Kafe itu lumayan luas, dan ada panggung kecil untuk live accoustic music. Sungguh menyenangkan. Rudi mempersilahkan Aisyah untuk duduk. Rudi segera berjalan untuk memesan makanan dan minuman.

Aisyah melirik sedikit ke arah panggung kecil itu. Pemuda – pemuda yang mahir bermain gitar akustik rasanya berkumpul disitu dan mereka mayoritas menyanyikan lagu – lagu luar negeri. Aisyah sangat jarang datang ke tempat seperti ini. Jadi ini adalah pemandangan yang menyenangkan baginya.

Tak lama kemudian Rudi datang dan duduk di kursi, tepat berhadap – hadapan dengan Aisyah. Sangat jarang Rudi melihat Aisyah duduk di depan matanya. Aisyah memang tidak berkerudung, namun tetap terlihat cantik malam ini.

Seorang pelayan datang mengantarkan minuman. Dua buah cangkir kopi hangat untuk mereka berdua. Wajah Aisyah mendadak jadi aneh,

“ lho, Aisyah? Kenapa? Tidak suka kopi? ”, tanya Rudi pada Aisyah.

“ Bukannya tidak suka, hanya saja aku sedang mengurangi konsumsi kopi akhir – akhir ini “, ucap Aisyah dengan suara agak pelan. Mungkin ia takut Rudi marah atau apa . . .

“ Padahal tadi di luar kau terlihat kedinginan . . . “

“ Ya tapi kan tetap saja aku tidak mau minum kopi “

“ Memangnya kenapa sih? Kau kan masih muda “

“ Bukan itu, hanya saja saat aku minum kopi biasanya aku akan susah tidur selama seminggu penuh “, ujar Aisyah. Rudi hanya bisa tersenyum kecil,

“ hmm... penyakit yang aneh. Ya sudah, mau aku pesankan minuman lain? ”

Aisyah terdiam sejenak,

“ Es Lemon saja “

Rudi mengaga, matanya melotot,

“ Katanya dingin, kok malah minum yang dingin – dingin? “

“ Memangnya tidak boleh ya? “

“ Boleh sih . . . “

Rudi langsung melirik sekitar. Lalu memanggil seorang pelayan,

“ Mba! “

“ Ya? Ada yang mau dipesan lagi pak? “, tanya pelayan itu.

“ Saya pesan es teh lemon ”

“ dua? “

“ satu saja “

Sembari menunggu es teh lemon, Rudi kembali menatap wajah Aisyah dalam – dalam. Aisyah terlihat begitu tidak konsen karena ia masih saja melirik keramaian kafe itu. Meski ramai tetapi suasana kafe ini tetap tenang dan membuatnya nyaman.

Ternyata baru beberapa menit saja es teh lemon yang dipesan sudah ada di atas meja,

“ Ini es teh lemonnya. Mohon maaf pak dapur kami sedang ada sedikit masalah jadi makanan yang bapak pesan mungkin terlambat. Kami mohon maaf sekali lagi. Kalau bapak mau membatalkan pesanannya juga tidak apa – apa.”

“ ah... tidak apa – apa saya tunggu saja kebetulan saya sedang santai kok “, ujar Rudi. Pelayan itu kemudian meninggalkan meja mereka berdua.

“ emm...tidak apa apa kan menunggu agak lama?”, tanya Rudi. Aisyah mengangguk,

“ Tidak apa apa, tenang saja aku juga masih menikmati suasana kafe ini kok”,ujar Aisyah sembari kembali melirik – lirik keramaian sekitar.

“ Oh ya, ngomong – ngomong barusan rumahmu sepi sekali. Semuanya kemana? “, tanya Rudi tiba – tiba.

“ Entahlah, mereka semua sedang pergi dan tak memberitahuku. “, ujar Aisyah.

“ Jadi, rumahmu kosong? “

“ ya...begitulah “

“ Kakakmu pergi juga bersama orang tuamu? “, tanya Rudi lagi.

“ Tidak. Katanya ia mau kencan dengan seseorang yang ia sukai. Entahlah ia begitu memikirkan dirinya sendiri sedangkan aku adiknya malah jarang diajak bicara. “, ucap Aisyah dengan wajah agak kesal.

“ Mungkin itu hanya untuk sementara. Memang terkadang orang yang sedang jatuh cinta sering melupakan orang – orang terdekatnya. “

“ Benarkah? “

“ Ya, tentu. Memangnya seumur hidup kau belum pernah jatuh cinta dengan lelaki? “

“ Belum “

“ waw . . . tak kusangka. Berapa umurmu sekarang? “

“ 19 tahun. 3 bulan lagi menjadi 20 “

“ Jujur aku tak percaya, anak umur 10 tahun pun sudah banyak yang pacar – pacaran dengan teman sekelasnya. Masa kau belum pernah pacaran? ”

“ Ah, biarlah. Tuhan memang sudah memberi takdir kepadaku. Aku yakin suatu saat Tuhan akan mempertemukan jodohku “

“ Kalau kau hanya diam saja jodohmu tak akan datang dengan sendirinya ”, ujar Rudi. Aisyah terdiam. Ia sibuk meneguk es teh lemon,

“ Kau juga seharusnya berusaha untuk mencari cinta itu “, lanjut Rudi. Aisyah masih saja terdiam.

“ Lantas, mengapa kau tidak segera mencari pasangan di umurmu yang sudah berkepala dua ini? “, tanya Rudi. Kali ini Aisyah mulai membuka mulutnya,

“ Aku masih ragu – ragu. Dan aku masih belum bisa membayangkan jodohku seperti apa nantinya “

“ Lihat saja seseorang yang saat ini ada di depanmu “, ujar Rudi. Jantung mereka berdua tiba - tiba berdegup dengan kencangnya. Rudi menarik nafas dalam – dalam.

“ Sya, apa kau mau jadi kekasihku? “

Aisyah yang sedang meneguk es teh lemon itu kaget dan langsung tersedak,

“ Eh, apa kau tersedak? Kau tidak apa – apa kan? “, tanya Rudi. Terlihat jelas bercak kekuning – kuningan melekat di kerah Aisyah,

“ Aduh, aku akan ke toilet dulu untuk membersihkan pakaianku. “, ujar Aisyah.

“ Ya sudah. Tapi kau tidak apa – apa kan? “, tanya Rudi lagi.

“ Tidak, tidak apa – apa. “, ujar Aisyah.

Aisyah berjalan menuju toilet sembari mencoba untuk membersihkan kerahnya. Jantungnya masih berdegup kencang. Dan ia masih bimbang ingin mengatakan ‘ya’ atau ‘tidak’.

Dari awal ia pergi meninggalkan meja makan, ia sudah curiga. Rasanya ada seseorang yang mengikutinya. Tapi ia Aisyah mencoba untuk berfikir positif dan menghilangkan rasa curiganya itu. Ia masih saja berdiri di depan cermin sembari berusaha menghilangkan bercak – bercak bekas lemon di kerahnya itu.

“ ehm ”,

Tiba – tiba terdengar suara laki – laki berdeham di belakangnya. Aisyah sempat kaget. Matanya langsung menatap cermin untuk melihat siapa yang ada di belakangnya itu. Dan ternyata hanyalah laki – laki yang barusan bermain gitar. Aisyah sempat kaget untuk apa orang itu ada di toilet wanita. Tetapi pada akhirnya ia tak peduli dan kembali sibuk pada kerahnya.

“ ehm “,

Suara dehaman kembali terdengar dan masih dari orang yang sama. Aisyah kembali memperhatikan lelaki itu dari cermin. Lelaki itu tak mau menunjukkan wajahnya. Topi bundar yang digunakannya menutupi separuh wajahnya. Aisyah kembali sibuk dengan kerahnya. Namun kali ini temponya dipercepat. Ia sudah mulai takut lelaki itu berniat untuk merampoknya atau mungkin membunuhnya dengan senjata tajam.

“ Nona, apa kau tidak mengenalku? “, tanya lelaki misterius itu,

“ siapa kau? Dan mau apa kau? “, tanya Aisyah agak keras. Tubuhnya mulai gemetar dan terlihat sangat ketakutan,

“ Sungguh? Kau tak mengenalku? “, tanya orang itu lagi. Aisyah hanya bisa terdiam sembari menatap orang itu lewat cermin di depannya. Ia sungguh tak tahu siapa orang itu,

“ Kau sungguh keterlaluan Aisyah! Berbulan – bulan aku bekerja keras agar bisa datang ke Bandung untuk menemuimu. Ternyata dengan mudahnya kau melupakan aku dan melupakan hubungan kita selama berbulan – bulan waktu dulu“

“ Caka? “, ucap Aisyah sambil berbalik,

“ Kau tahu? Bali dan bandung adalah tempat yang berjauhan dan butuh usaha yang keras untuk sampai kesini. Aku kesini untuk mengajakmu kembali ke Bali, sya. Aku ingin melamarmu sesuai dengan apa yang aku janjikan padamu 6 bulan yang lalu. Kau lupa hah? “, ujar lelaki yang bernama ‘caka’ itu.

“ Aku ingat. aku tahu waktu itu kau bilang beberapa bulan lagi kau akan melamarku. Tetapi aku tahu Tuhan berkata lain dan menakdirkanku untuk tinggal disini dan bertemu dengan orang lain. “, ujar Aisyah.

“ Kau tidak ingat janji kita untuk saling setia meski jarak dan waktu memisahkan kita? Kalau kau ingat, maka siapa laki – laki itu!? ”

“ Siapa? “, tanya Aisyah dengan wajah polos.

“ Jangan berpura – pura polos! Aku memperhatikanmu sejak kau datang hingga kau duduk berdua! “, teriak Caka. Terlihat dari wajahnya ia begitu emosi.

“ Caka, tolong dengarkan penjelasanku dulu. Itu hanya temanku. Tidak lebih. “, ujar Aisyah dengan wajah sedikit memelas agar Caka mau mendengarkan perkataannya.

“ Aku sudah tidak bisa mempercayaimu lagi. Sya, sejak saat ini hubungan kita . . . berakhir “

“ Tapi Caka . . . “

“ Apa!? “, Caka kembali berteriak dengan lantang. Tiba – tiba seseorang masuk. Ya . . . dia adalah Rudi.

“ Katakan padaku siapa kau dan kenapa kau masuk ke toilet wanita sembari teriak – teriak tak jelas “, ujar Rudi dengan agak keras. Sepertinya ia juga terbawa emosi karena Aisyah dibentak – bentak.

“ Apa pedulimu? Sudah, ambil saja kekasihmu itu. Aku tidak merampok barang – barangnya. “, ujar Caka sembari berjalan menuju pintu keluar. Tetapi Rudi mencegatnya,

“ Hey, aku bertanya padamu siapa kau? Apa hubunganmu dengan Aisyah? “, tanya Rudi.

“ Aku hanyalah seorang pengamen. PUAS??? “, ujar Caka. Rudi langsung memukul wajah Caka. Aisyah terlihat begitu panik,

“ Eh, sudahlah . . . kalian jangan bertengkar “, kata Aisyah dengan wajah yang ketakutan,

“ Aku yakin kau ingin menyakiti Aisyah. Ya kan? “, bentak Rudi pada Caka. Caka hanya tersenyum,

“ Tidak, bodoh. “

Setelah mendapat jawaban itu, Rudi kembali memukulnya dengan keras. Lebih keras dibanding pukulan sebelumnya. Caka hanya tersenyum.

Dengan cepat ia memukul balik dengan lebih keras. Kepala Rudi membentur cermin. Dan cermin itu langsung pecah berkeping – keping, berserakan di lantai. Anehnya tidak ada seorangpun yang masuk ke toilet untuk melerai mereka berdua. Keramaian diluar membuat orang – orang jadi asyik sendiri di mejanya.

Kepala Rudi mengalirkan darah. Kepalanya mendadak jadi sangat pusing. Seketika ia terjatuh ke lantai dan terbaring lemah sembari menahan rasa sakit yang teramat sangat. Caka hanya diam. Ternyata hanya dengan satu pukulan saja lawannya langsung terjatuh kesakitan.

Tapi . . . tunggu . . . Aisyah mana?

Caka keluar toilet. Lalu berjalan cepat keluar menuju meja makan Aisyah dan Rudi. Tetapi, nyatanya disana tidak ada siapa – siapa. Sekumpulan lelaki di pinggir panggung melambai – lambaikan tangannya pada Caka,

“ Oi, ayo main lagi! “

Caka menggeleng – gelengkan kepalanya lalu segera berbalik, berjalan cepat menuju pintu keluar dan berkeliling mencari Aisyah.

Setelah agak lama keluar kafe, ia masuk lagi ke dalam dengan wajah penuh kekecewaan. Ia tak tahu Aisyah ada dimana. Ia kembali berjalan ke toilet wanita. Terlihat disana begitu ramai. Ia tahu, pasti Rudi meminta tolong dan membuat suasana menjadi heboh. Saat mendekati toilet tersebut, salah satu teman akustiknya menghalangi dengan tangannya,

“ Jangan kesana bro, ada dua mayat ditemukan tewas di toilet ini. “, lelaki itu. Caka menganga,

“ Dua? “

“ Iya, seorang lelaki dan seorang wanita tak berjilbab. Lelaki itu ditemukan tewas dengan darah yang masih mengalir di kepalanya. Sedangkan si wanita terlihat ada goresan di pergelangan tangannya. Rasanya ia bunuh diri dengan bantuan pecahan kaca yang berserakan disana. “

Caka terdiam. Malam ini ia sudah membunuh dua orang. Dan salah satunya adalah wanita yang begitu dicintainya. Berbulan – bulan ia bekerja keras mencari cara agar bisa terbang ke Bandung dan bertemu pujaan hatinya, tapi nyatanya ia malah membunuh pujaan hatinya itu. Caka menarik nafas agak panjang, kepalanya menunduk.

Seorang pelayan masih saja berdiri. Ia hendak mengantarkan pesanan makanan ke sebuah meja. Namun meja itu kosong dan tak berpenghuni. Hanya ada cangkir kopi dan segelas es teh lemon . . .

Komentar

share!